KDRT dan KBGO Mendominasi Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan di Masa Pandemi

Palembang Sonora – Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak selama masa pandemic masih terbilang tinggi terutama dalam hal kekerasan dalam relasi personal, baik kekerasan dalam pacaran maupun kekerasan dalam rumah tangga.

Yeni Roslaeni Izi, Direktur Women Crisis Center (WCC) kepada Sonora (18/06/2021) menjelaskan kekerasan terhadap perempuan dan anak tinggi selama pandemic disebabkan karena ruang kerja dan aktifitas lebih banyak di lakukan dirumah,  akibatnya mudah timbul perselisihan dan memicu kekerasan.

“ Ditambah beban perempuan yang banyak, kelelahan, disamping juga penurunan ekonomi karena PHK, pengahasilan yang menurun memicu kekerasan personal atau KDRT,” ujarnya.

Ia menambahkan selain kekerasan rumah tangga kekerasan lain yang juga cukup tinggi selama masa pandemic adalah kekerasan berbasis cyber atau gender online. Kekerasan yang difasilitasi teknologi dengan tujuan melecehkan korban berdasarkan jenis kelaminnya.

“ perempuan sering jadi korban. Penggunaan gawai yang meningkat memicu kekerasan ini. Korbannya kebanyakan anak-anak, pelakunya juga anak-anak. Itulah sebabnya edukasi tentang seks sejak dini penting,” tukasnya.

Menanggapi kunjungan menteri pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak, I Gusti Ayu Bintang Darmawati, S.E, M.Si beberapa waktu ke Palembang, ia menjelaskan bahwa menteri menginginkan agar penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak tidak bisa dilakukan oleh pemerintah saja, tapi butuh dukungan semua pihak.

“ Ibu menteri sempat meresmikan rumah aman di perusahaan perkebunan  karena memang banyak perusahaan perkebunan memiliki tenaga kerja perempuan dan rawan kekerasaan. Tapi saya berharap tidak sebatas itu saja, butuh SDM yang memiliki pemahaman bagaimana menangani kasus kekerasan terhadap perempuan. Sebab bila tidak diberi pelatihan maka perempuan korban kekerasan bisa mengalami kekerasan kembali,” ujarnya.

Ia menambahkan sejauh ini kordinasi antara WCC dengan beberapa pemerintah kabupaten kota sudah berjalan cukup baik namun dirinya berharap bisa ditingkatkan  terutama dalam hal pengalokasian dana operasional bagi penanganan kasus-kasus kekerasan yang melibatkan organisasi masyarakat sipil.

“ karena penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan tidak ada biayanya, padahal ibu menteri mengatakan ada dana alokasi khusus untuk penanganan kekerasan di beberapa kabupaten kota. Kami sudah membentuk beberapa komunitas anti kekerasan terhadap perempuan dibeberapa kabuten. Mereka bisa dilibatkan dan disuport agar pencegahan, penanganan dan pemulihan kekerasan terhadap perempuan maksimal,” tukasnya.

Ia pun berharap masalah kekerasan terhadap perempuan dan anak menjadi prioritas pemerintah, media dan masyarakat serta seluruh stake holder sehingga penagannnya menjadi prioritas tidak asal asalan. “ saya mengutip perkataan bu Bintang, bila kekerasan terhadap perempuan terkurangi, anak terlindungi maka perempuan akan berdaya dan Indonesia akan maju,” ujarnya.

 

Penulis : Jati / endah

Sumber foto : koleksi pribadi



Leave a Reply