
Pemerintah Indonesia tengah mengupayakan hilirisasi batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME) sebagai solusi strategis untuk mengurangi ketergantungan pada impor LPG dan memperkuat ketahanan energi nasional. Program ini melibatkan kolaborasi antara BUMN seperti PT Bukit Asam, Pertamina, dan investor global guna mengolah batu bara berkalori rendah menjadi bahan bakar alternatif.
Berdasarkan hasil uji terap dan penelitian yang dilakukan oleh Badan Litbang ESDM, penggunaan 100% Dimethyl Ether (DME) pada kompor masyarakat menunjukkan hasil yang secara teknis layak untuk mensubstitusi LPG, namun dengan beberapa penyesuaian khusus.
Berikut adalah rincian hasil uji coba tersebut:
- Karakteristik Nyala Api dan Operasional
- Kualitas Api: Nyala api yang dihasilkan berwarna biru dan stabil.
- Kemudahan Penggunaan: Masyarakat melaporkan bahwa kompor mudah dinyalakan, pengendalian nyala api mudah dilakukan, dan stabilitas api berada dalam kondisi normal.
- Penerimaan Masyarakat: Uji terap yang dilakukan di Palembang dan Muara Enim (155 kepala keluarga) serta Jakarta (100 kepala keluarga) menunjukkan bahwa secara umum bahan bakar ini dapat diterima oleh masyarakat.
- Efisiensi dan Konsumsi Bahan Bakar
- Efisiensi Panas: Melalui modifikasi pada bagian kepala burner dan nozzle, efisiensi kompor meningkat sebesar 10% (dari 55% menjadi 65%).
- Rasio Konsumsi: Konsumsi DME tercatat 1,3 kali lebih banyak dibandingkan LPG. Meskipun lebih boros secara volume, angka ini lebih baik dari perhitungan teoretis yang memperkirakan konsumsi DME seharusnya 1,6 kali lebih banyak karena perbedaan nilai kalor.
- Waktu Memasak: Proses memasak memerlukan waktu 1,1 hingga 1,2 kali lebih lama (atau sekitar 20% lebih lama) dibandingkan menggunakan LPG.
- Kebutuhan Modifikasi Peralatan
- Modifikasi Kompor Konvensional: Pengguna kompor LPG lama tidak perlu membeli kompor khusus DME, melainkan cukup mengganti suku cadang pada sistem pengapian (burner dan nozzle) agar pembakaran berlangsung sempurna.
- Kompor Khusus: Penggunaan 100% DME tanpa modifikasi pada kompor LPG konvensional dianggap tidak efisien karena perbedaan tekanan uap dan titik didih, sehingga disarankan menggunakan kompor yang memang didesain khusus untuk DME.
- Potensi pada Sektor UMKM
- Kompor Semawar: Uji coba pada kompor semawar yang biasa digunakan oleh pedagang kaki lima menunjukkan hasil yang tidak jauh berbeda dengan kompor LPG konvensional. Hal ini membuktikan bahwa sektor UMKM juga memiliki potensi besar untuk beralih menggunakan DME.
Secara teknis, penggunaan 100% DME dinilai layak sebagai bahan bakar rumah tangga, asalkan dilakukan modifikasi alat atau penggunaan kompor khusus untuk mengimbangi nilai kalor DME yang lebih rendah dibandingkan LPG.
