Berikut Ini Daftar Kajian IESR terkait Transisi Energi Batubara ke Energy terbarukan

Palembang Sonora – Sebagai upaya memperkenalkan isu transisi energy terutama di Sumatera Selatan, IESR melakukan kajian transisi energy dari batubara ke energy terbarukan serta secara sosial ekonomi di Kabupaten Muara Enim.

Perwakilan Tim Research IESR, Marta Jesica mengatakan, bahwa kajian yang dilakukan IESR belum sampai kepada list dampak bila ada penurunan batubara tapi mulai kepada isu-isu sosial yang ada dan berdampingan dengan pengembangan industry batubara di muaraenim.

Isu sosial antara lain konsumerisme, mengingat karena pendapatan pekerja tambang melebihi UMR dan jauh dari pendapatan pekerja sektor-sektor lain tapi berdampak pada pengeluaran meningkat jadi budaya terus membeli sehingga kesejahteraan tidak terjamin dengan adanya peningkatan pendapatan.

“Bila nanti ada kecenderungan penuruan batubara, budaya beli masyarakat yang terlanjur tinggi tersebut akan susah dikendalikan bila pendapatannya hilang sama sekali. Itu jadi peluang dampak yang mendominasi bila terjadi pengurangan batubara terjadi di Indonesia terutama di wilayah muaraenim sumatera selatan,” katanya ketika diwawancarai Sonora Palembang pada Selasa (26/09).

Ia menambahkan pemerintah daerah sudah berupaya untuk mengembangkan dan menggali potensi energy terbarukan tapi eksplorasi ke ekonomi hijau masih kurang.

Selain itu, lanjut dia, hal ini juga menjadi tugas bersama termasuk pemerintah dan swasta untuk mencari tahu potensi wilayah sumsel selain batu bara apa yang bisa dikembangkan.

“Itu butuh waktu apakah ada potensi lain seperti perkebunan. Tapi swasta ada BUMN mereka banyak roadmap untuk mengalihkan bisnis mereka yang semula hanya batubara mulai ke hilirisasi batubara bahkan ke eco wisata missal tanjung enim kota wisata atau kawasan industry tanjung enim, tapi belum maksimal,” imbuhnya.

Ia mengatakan, terdapat dua hal yang perlu menjadi perhatian, pertama pemerintah daerah harus mengeksplorasi sumber-sumber pembiayaan seperti BBH, CSR namun tidak menutup kemungkinan bentuk kerjasama mitra dengan investor luar negeri untuk mendukung proses transisi.

Kedua, perlu adanya transparansi program pemerintah dan masa depan perusahaan.

Banyak program dilakukan oleh pemerintah bahkan swsata dan BUMN untuk mempersiapkan model bisnis mereka untuk dapat berlanjut di isu transisi ini tapi masyarakat kadang tidak punya pengetahuan yang sama, perlu ditransparasikan, disosialisasikan apa yang divisikan sehingga masyarakat bisa berkontribusi.

“Semoga teman-teman jurnalis bisa terekspose data dengan baik karena mencari data butuh biaya dan waktu yang besar. Bila data debatable maka bisa didebatkan dan jurnalis bisa menyuarakan keberadaan data agar semua punya kesamaan pemahamanan tentang suatu isu. Bila data sudah terekspose maka jurnalis bisa banyak mengeskplore data yang ada,” tutupnya.



Leave a Reply