Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kota Palembang terus berusaha menaikan angka partisipasi akseptor Keluarga Berencana (KB) di wilayah Palembang melalui inovasi program “Jebol KB” (Jemput Bola Keluarga Berencana). Langkah strategis ini mengemuka dalam talkshow Radio Sonora Palembang di Youtube dan Radio yang mengangkat tema “Inovasi Jemput Bola (Jebol) KB Non MKJP Bagi Keluarga Kurang Mampu di Kota Palembang” pada Selasa (27/10/2026).
Plt.Kepala DPPKB Kota Palembang, Dr. Ir. H. Akhmad Bastari, SR., M.T., IPM., ASEAN Eng., mengungkapkan bahwa berdasarkan data, terdapat lebih dari 215.500 Pasangan Usia Subur (PUS) yang tersebar di 18 kecamatan. Untuk menjangkau target tersebut, pihaknya mengerahkan lebih dari 4.400 kader penyuluh yang bergerak hingga ke tingkat Rukun Warga (RW).
“Inovasi Jebol KB ini hadir sebagai bentuk adaptasi. Jika selama ini masyarakat kesulitan karena kendala waktu, biaya, atau transportasi untuk datang ke fasilitas kesehatan, kini kader kami yang turun langsung mendatangi dan mendampingi warga,” ujar Bastari.
Hal serupa disampaikan oleh Kepala Bidang Keluarga Berencana DPPKB Kota Palembang, Dra. Sarah, SH., M.Hum. Ia menjelaskan bahwa pendekatan para penyuluh dilakukan secara persuasif dan humanis. Para kader menjemput bola menemui warga di berbagai lokasi, mulai dari rumah tangga, kawasan padat penduduk seperti Kertapati dan Sukarami, hingga ke pasar tradisional.
Dalam pelaksanaannya, program ini berfokus melayani pemberian Metode Kontrasepsi Jangka Pendek (Non-MKJP) yang mudah diakses seperti pil dan kondom. Meski demikian, petugas di lapangan juga proaktif mengedukasi dan memfasilitasi warga yang ingin beralih ke Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP).
Plt.Kepala Bidang Penyuluhan dan Penggerakan DPPKB Kota Palembang, Roya Palingga, SE., MM., menambahkan bahwa Pemerintah Kota Palembang memberikan dukungan penuh, khususnya bagi warga kurang mampu yang bersedia menjadi akseptor kontrasepsi jangka panjang seperti vasektomi (MOP) dan tubektomi (MOW).
“Bagi warga kurang mampu yang mengikuti program jangka panjang, pemerintah menyiapkan uang pengganti tidak bekerja selama tiga hari dengan nominal Rp150.000 per harinya. Warga juga difasilitasi ruangan VIP di rumah sakit, diberikan konsumsi, dan mendapat layanan antar-jemput,” ungkap sosok yang akrab disapa Lingga tersebut.
Untuk memaksimalkan pelayanan, program Jebol KB telah terintegrasi dengan 172 Fasilitas Kesehatan (Faskes). DPPKB juga membekali tenaga di lapangan dengan 35 unit kendaraan roda dua khusus untuk mengantar dan menjemput calon akseptor menuju faskes terdekat.
Tidak sebatas pada pelayanan awal, DPPKB Kota Palembang juga menjamin adanya pendampingan pasca-tindakan. Jika akseptor mengalami keluhan medis, petugas akan langsung merujuk dan mendampingi pasien berobat menggunakan BPJS hingga kondisinya pulih.
“Kami berkomitmen penuh bahwa warga tidak mampu akan kami layani secara optimal. Mereka akan mendapatkan informasi yang benar, pelayanan kesehatan yang aman, serta pendampingan penuh dari hulu ke hilir tanpa dipungut biaya,” tutup Bastari.
Penulis : Aji Saputra
