Ketika Senja Tak Lagi Membawa Gelap di Musi Banyuasin

Sonora Palembang – Suara mesin generator set (genset) berbahan bakar bensin pernah menjadi penanda datangnya malam di Dusun Sungai Putih, Desa Bandar Jaya, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Setiap matahari tenggelam di balik rimbunnya perkebunan sawit, raungan mesin-mesin rakitan mulai bersahutan dari rumah ke rumah. Bohlam kuning yang redup menjadi satu-satunya sumber penerangan untuk mengusir gelap.

Bagi sebagian warga, malam bukan hanya waktu untuk beristirahat. Ada biaya yang harus dikeluarkan agar rumah tetap terang. Ada pula pilihan sulit antara menyalakan genset atau membiarkan malam berlalu dalam kegelapan.

Rohiya, warga Dusun 4 Sungai Putih, masih mengingat betul bagaimana keluarganya harus mengatur pengeluaran hanya untuk mendapatkan penerangan. Setiap malam, sedikitnya Rp25.000 disiapkan untuk membeli bensin genset. Itu pun tidak menjamin rumahnya bisa terang sepanjang malam.

“Kalau lagi ada uang, ya genset dinyalakan tiga jam. Tapi kalau sedang tidak ada uang, ya kami memilih tidur dalam gelap-gelapan,” kata Rohiya mengenang masa-masa tersebut.

Keterbatasan itu berlangsung bertahun-tahun. Bagi warga di kawasan terpencil Musi Banyuasin, listrik bukan sekadar fasilitas rumah tangga. Ketiadaannya ikut membatasi waktu belajar anak, aktivitas keluarga, hingga peluang untuk mengembangkan usaha.

Mimpi Sederhana dari Rumah Panggung

Pengalaman serupa dirasakan Ruslan (52), petani sawit yang tinggal di Dusun Sungai Putih. Sebelum mendapatkan akses listrik yang lebih memadai, genset tua di samping rumahnya hanya mampu menyalakan satu atau dua lampu di ruang tengah.

Ketika malam tiba, aktivitas keluarga harus menyesuaikan dengan keterbatasan penerangan. Anak-anak kesulitan membaca buku pelajaran, sementara istrinya tidak leluasa melanjutkan pekerjaan sampingan menjahit pakaian.

Bagi Ruslan, kehadiran listrik bukan tentang kemewahan teknologi. Ia hanya ingin menikmati fasilitas rumah tangga yang selama ini sulit dijangkau keluarganya.

“Saya merasa bersyukur sekali dapat bantuan ini. Biar dibilang norak tidak apa-apa, saya ini cuma ingin merasakan makan nasi yang dimasak dari magic jar dan punya kulkas di rumah supaya bisa minum air dingin,” ujarnya saat menerima bantuan instalasi listrik gratis berkapasitas 900 VA beserta subsidi token awal.

Keinginan Ruslan mungkin terdengar sederhana bagi masyarakat yang telah lama menikmati listrik. Namun, bagi keluarga yang bertahun-tahun hidup dengan penerangan terbatas, memiliki penanak nasi listrik dan lemari pendingin merupakan pengalaman baru.

Kini, setelah mendapatkan sambungan listrik, keluarganya memiliki lebih banyak keleluasaan menjalankan aktivitas pada malam hari. Istrinya dapat melanjutkan pekerjaan menjahit, sementara anak-anak bisa belajar dengan penerangan yang lebih baik.

Pengalaman Rohiya dan Ruslan memperlihatkan bahwa persoalan elektrifikasi tidak berhenti pada tersedianya jaringan dan sambungan listrik. Di balik setiap rumah yang akhirnya terang, terdapat perubahan pada cara keluarga mengatur waktu, bekerja, dan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Menembus Belantara, Membuka Akses Energi

Menghadirkan listrik ke wilayah terpencil Musi Banyuasin bukan pekerjaan sederhana. Kondisi geografis, jarak antarpemukiman, serta keberadaan kawasan hutan menjadi tantangan dalam pembangunan jaringan kelistrikan.

Sejumlah wilayah seperti Lubuk Bintialo, Pangkalan Bulian, Sako Suban, Mangsang, dan Muara Merang menjadi bagian dari upaya memperluas jangkauan layanan listrik. Pembangunan jaringan harus memperhitungkan kondisi kawasan yang dilalui, termasuk kawasan hutan produksi.

Untuk membuka akses pembangunan infrastruktur tersebut, diperlukan koordinasi antara pemerintah daerah, instansi kehutanan, dan PLN. Persoalan perizinan serta pemanfaatan kawasan hutan menjadi salah satu aspek yang harus diselesaikan sebelum pembangunan jaringan dapat dilaksanakan.

Tantangan pemerataan listrik di Musi Banyuasin juga berkaitan dengan perubahan pengelolaan layanan kelistrikan. Selama bertahun-tahun, puluhan ribu pelanggan mengandalkan pasokan listrik dari badan usaha milik daerah, PT Muba Electric Power (MEP).

Dalam pelaksanaannya, sebagian warga mengeluhkan pemadaman yang kerap terjadi dan mengganggu aktivitas rumah tangga maupun usaha. Kondisi tersebut menjadi salah satu latar belakang upaya peralihan pelanggan MEP ke PT PLN (Persero).

Proses migrasi dilakukan secara bertahap melalui koordinasi Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin, Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, PT MEP, dan PLN. Tahapan awal serah terima operasi pengelolaan jaringan eksisting dilaksanakan pada April 2025. Selanjutnya, proses pengalihan pelanggan terus berjalan hingga dinyatakan tuntas pada Juni 2026.

Berdasarkan data Dinas ESDM Provinsi Sumatera Selatan pada 19 Juni 2026, sebanyak 57.685 pelanggan di 14 kecamatan telah beralih menjadi pelanggan PLN. Sementara.

Peralihan pengelolaan ini diharapkan memperkuat layanan kelistrikan bagi masyarakat. Namun, keberhasilan migrasi pelanggan perlu dibedakan dari perluasan elektrifikasi ke wilayah yang sebelumnya belum memiliki jaringan. Keduanya merupakan pekerjaan yang saling berkaitan, tetapi memiliki tantangan dan cakupan berbeda.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia, saat mengunjungi kediaman Ruslan di Dusun Sungai Putih pada Oktober 2025, turut menyoroti pentingnya pemerataan akses listrik. Dalam kesempatan itu, ia mengingat kembali pengalaman masa kecilnya yang tumbuh di lingkungan tanpa penerangan listrik.

“Saya ini salah satu anak kampung yang sekolah SD tidak ada listriknya. Saya tidak ingin kejadian masa lalu saya itu terjadi pada anak-anak di desa sekarang. Negara harus hadir,” kata Bahlil.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa persoalan akses listrik bukan hanya menyangkut pembangunan infrastruktur, melainkan juga kesempatan masyarakat untuk memperoleh kualitas hidup dan pendidikan yang lebih baik.

Ketika Listrik Menjadi Penggerak Ekonomi Keluarga

Perubahan akses listrik tidak hanya terasa di ruang keluarga. Bagi sebagian warga, ketersediaan energi yang lebih stabil juga membuka peluang untuk menjalankan usaha kecil.

Di Desa Rantau Keroya, Kecamatan Lais, misalnya, Nanik (27) memanfaatkan teras rumah berukuran sekitar dua kali tiga meter untuk membuka usaha jus buah dan es teler. Di tempat sederhana itu, sebuah mesin blender, cup sealer, dan lemari pendingin menjadi peralatan penting untuk menunjang aktivitas dagangnya.

Sebelumnya, gangguan pasokan listrik membuat Nanik kesulitan mengandalkan peralatan elektronik untuk berjualan. Blender tidak dapat digunakan ketika listrik padam, sementara mesin penyegel gelas juga tidak bisa beroperasi.

“Dulu waktu masih pakai listrik yang lama, sering byar-pet. Warga sini sampai menyebut listriknya kumat-kumatan seperti orang minum obat. Bagaimana mau jualan jus kalau blendernya tidak bisa hidup dan cup sealer tidak bisa dicolok? Makanya baru setelah migrasi ke PLN ini saya berani buka usaha sambil mengasuh bayi,” tutur Nanik.

Bagi Nanik, listrik yang lebih dapat diandalkan memberikan keleluasaan dalam mengelola usaha dari rumah. Peralatan yang sebelumnya sulit digunakan kini dapat dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan produksi dan pelayanan kepada pelanggan.

Kisah lainnya datang dari Anton, seorang penjahit di Kecamatan Tungkal Jaya. Baginya, listrik memiliki hubungan erat dengan kelancaran aktivitas keluarga, termasuk akses komunikasi dan pendidikan anak.

Ia mengingat masa ketika pemadaman listrik berkepanjangan juga berdampak pada terganggunya sinyal telepon seluler karena stasiun pemancar atau tower ikut mengalami gangguan pasokan.

“Saat terjadi kabut asap karhutla beberapa waktu lalu dan sekolah memberlakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), anak saya bisa belajar online di rumah dengan lancar. Tidak ada lagi cerita mati lampu atau sinyal hilang di tengah pelajaran,” ujar Anton.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa akses listrik memiliki keterkaitan dengan kebutuhan lain yang semakin penting dalam kehidupan masyarakat. Kegiatan belajar, komunikasi, dan pekerjaan kini semakin bergantung pada ketersediaan energi.

Meski demikian, manfaat listrik bagi perekonomian keluarga tidak datang secara otomatis. Ketersediaan pasokan perlu diikuti kemampuan masyarakat memanfaatkan peralatan listrik, akses terhadap modal, serta peluang pasar agar perubahan tersebut benar-benar berdampak pada pendapatan.

Cahaya yang Menyimpan Harapan

Di sejumlah sudut Musi Banyuasin, kehadiran jaringan listrik telah mengubah suasana malam. Rumah-rumah yang dahulu bergantung pada genset kini memiliki kesempatan menikmati penerangan tanpa harus terus-menerus menghitung biaya bensin.

Bagi Rohiya, perubahan itu berarti berkurangnya pengeluaran untuk membeli bahan bakar genset. Bagi Ruslan, listrik menghadirkan kesempatan menikmati fasilitas rumah tangga yang selama ini hanya menjadi keinginan sederhana. Sementara bagi Nanik, pasokan listrik menjadi salah satu penunjang untuk mempertahankan usaha kecilnya.

Namun, pemerataan energi tidak cukup diukur dari banyaknya tiang yang berdiri atau jumlah pelanggan yang berpindah pengelolaan. Ukuran yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat adalah sejauh mana setiap keluarga memperoleh layanan yang memadai, dapat diandalkan, dan mampu mendukung kegiatan produktif.

Sebab, bagi anak-anak di pelosok Musi Banyuasin, cahaya lampu di ruang belajar bukan sekadar pengusir gelap. Ia menjadi bagian dari kesempatan untuk membaca, menyelesaikan pekerjaan sekolah, dan membangun cita-cita.

Malam yang dahulu dibatasi oleh suara genset dan hitungan liter bensin perlahan menyisakan ruang bagi harapan yang lebih panjang. Di balik cahaya yang menyala, ada kehidupan yang terus bergerak dan masa depan yang ingin diperjuangkan.

Penulis Achmad Aulia

Poto Koleksi Pribadi



Leave a Reply