Palembang Sonora – Judi online kini sudah massif dan mengkhawatirkan di tengah masyarakat. Apa dampaknya terhadap sosial dan ekonomi masyarakat? Pengamat Sosial Sumsel, Abdullah Idi, kepada Sonora (19/06/2024) menjelaskan bahwa judi online di masyarakat disebabkan oleh beberapa faktor, yakni faktor makro dan mikro.
“Kalau kita bicara penyebabnya, bisa makro, juga bisa mikro. Makro itu maksud saya adalah adanya mentalitas sebagian masyarakat kita yang terlibat judi online atau judi apa pun, yakni ingin jalan pintas untuk memperoleh materi secara cepat. Nah, ini motivasi yang umum atau makro. Kalau yang sifatnya mikro, bisa saya katakan karena adanya keinginan coba-coba, kemudian ingin mendapatkan materi secara cepat, dan juga bisa karena pengaruh gadget. Kita tahu bahwa hampir semua umur sekarang pegang hp. Saya kira itu kombinasi yang mungkin menyebabkan orang ingin memperoleh sesuatu secara instan. Itulah sebagai penyebab utama yang menurut saya umum,” ujarnya.
Terkait pelaku judi online yang berasal dari semua kalangan mulai dari aparat penegak hukum, wakil rakyat hingga masyarakat kecil, Abdullah menilai bahwa hal tersebut berkaitan dengan mentalitas. Adanya mentalitas yang ingin mendapat untung tanpa harus bekerja keras.
“Berkaitan dengan mentalitas tadi, ya. Jadi adanya mentalitas yang berpikir kalau untung, dia tidak perlu cape-cape dapat duit banyak. Ini tidak melihat posisi orang lain. Mentalitas ini bisa ada pada orang terdidik, orang yang punya jabatan, atau siapa pun karena menyangkut mentalitas. Idealnya, mereka yang punya posisi jabatan publik itu menjadi teladan bagi masyarakat sebagai educator. Dampaknya bisa beragam dan dialami oleh siapa pun, dari kebangkrutan hingga rusaknya rumah tangga, dan sanksi sosial juga bisa terjadi,” terangnya.
Sementara perihal adanya pro kontra terkait wacana keluarga korban judi online yang akan mendapat bantuan sosial atau bansos dari pemerintah, Abdullah menilai bahwa wacana tersebut perlu dikaji lebih mendalam terlebih dahulu agar penyaluran bansos tidak salah sasaran.
“Pertama, regulasi. Menurut saya, pemerintah perlu memperjelas regulasi karena disebutkan bansos, apakah judi online ini termasuk kategori bansos. Bansos kan bantuan sosial yang sifatnya luas. Misalnya dampak dari judi online berdampak pada keluarganya, apakah keluarganya tidak tahu apa-apa. Tapi perlu penyelidikan apakah benar anak istrinya tidak tahu. Ini akan merumitkan untuk bicara tentang bansos sementara masalah lain yang jelas memerlukan bansos seperti peminta-minta di lampu merah, anak kecil, korban banjir, dan kebakaran. Itu lebih menjadi prioritas dalam kategori bansos. Kalau judi online, bisa saja nanti dibantu, dia cari celah lagi untuk minta bantuan. Ini kan kasihan negara juga. Pemerintah niat baik, tapi tidak tepat sasaran,” urainya.
Terkait pemerintah yang telah resmi membentuk satgas judi online, Abdullah mengatakan bahwa hal itu dilakukan sebagai upaya pencegahan. Namun yang terpenting adalah satgas tersebut dapat bekerja efektif tidak hanya jangka pendek tapi juga jangka panjang.
“Pencegahan judi online tidak hanya bersifat fisik tapi juga non-fisik. Strategi pemerintah membentuk satgas, apakah melalui intervensi program-program online atau yang bersifat fisik di lapangan untuk korban, perlu pemilahan agar tidak salah sasaran. Seperti di negara maju, misalnya anak-anak sekolah tidak boleh membawa hp. Di Sumsel ini hanya beberapa sekolah saja yang melarang anak-anak membawa hape di dalam kelas. Sama dengan judi online tadi. Tugas satgas ini, pemerintah punya strategi, tapi yang diinginkan masyarakat adalah strategi dan pencegahan yang efektif jangka pendek maupun jangka panjang untuk mengamankan mentalitas dan masyarakat kita, baik generasi muda yang sudah akrab dengan internet. Jangan sampai gara-gara judi online, kinerja kita menurun, orang yang rajin bekerja jadi malas, bahkan stres dan dampak kesehatan lainnya, kebangkrutan, hingga perpecahan rumah tangga. Pemerintah harus mencari pendekatan makro dan mikro, termasuk percepatan aturan. Apakah solusi atau menambah masalah baru juga penting. Tapi kita perlu menghargai niat pemerintah membantu masyarakat, tapi bantuan ini jangan sampai salah sasaran jadi uang habis, dan justru yang berjudi semakin banyak,” terangnya.
