Site icon Sonora FM Palembang

Dari Bijih ke Baterai: Begini Rantai Hilirisasi Nikel PT Vale Indonesia

Infografis

Sonora Palembang – PT Vale Indonesia terus mendorong hilirisasi nikel dengan mengembangkan rantai nilai dari kegiatan pertambangan hingga pengolahan mineral bernilai tambah. Melalui pemanfaatan teknologi pirometalurgi dan hidrometalurgi atau High Pressure Acid Leach (HPAL), bijih nikel diolah menjadi produk antara seperti Nickel Matte dan Mixed Hydroxide Precipitate (MHP).

Kegiatan operasional PT Vale Indonesia mencakup wilayah IUPK seluas sekitar 118.017 hektare di Sulawesi, dengan area operasi antara lain Sorowako, Pomalaa, serta pengembangan proyek di Bahodopi/Morowali.

Hilirisasi tersebut menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem industri nikel Indonesia. Salah satu proyek strategisnya adalah Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa, yang dikembangkan untuk menghasilkan sekitar 120 ribu ton nikel per tahun dan 15 ribu ton kobalt per tahun melalui teknologi HPAL.

Produk hasil pengolahan nikel ini memiliki peran penting dalam rantai pasok industri masa depan, khususnya sebagai bahan baku baterai kendaraan listrik (EV). Di sisi lain, produk berbasis nikel juga mendukung kebutuhan industri stainless steel.

Melalui hilirisasi, nilai ekonomi nikel tidak berhenti pada aktivitas penambangan bijih, tetapi diperpanjang hingga proses pengolahan dan pemanfaatannya sebagai bahan baku industri bernilai tambah. Langkah ini sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global mineral kritis dan transisi menuju energi yang lebih bersih.

Exit mobile version