Sonora Palembang — Di antara rumah-rumah warga Kelurahan Patih Galung, Kecamatan Prabumulih Barat, Kota Prabumulih, terdapat sebuah pekarangan yang kini tak lagi sekadar menjadi halaman rumah.
Di tempat itu, sayuran tumbuh. Sampah diolah. Produk pangan dibuat. Sejumlah perempuan berkumpul, belajar, sekaligus mencari cara untuk menambah nilai dari apa yang ada di sekitar mereka.
Di tengah aktivitas tersebut, ada seorang perempuan berusia 58 tahun bernama Tri Ningsih.
Tri merupakan ibu rumah tangga. Suaminya telah pensiun, sementara putra-putrinya telah sukses. Ia sebenarnya bisa memilih menikmati waktu bersama keluarga. Namun, Tri justru memilih tetap bergerak dan mengajak perempuan di lingkungannya melakukan sesuatu yang bermanfaat.
Semuanya berawal dari sesuatu yang sederhana: pekarangan rumah.
Lahan yang luas tetapi belum banyak dimanfaatkan itu kemudian membuat Tri berpikir. Pengalaman melihat pekarangan produktif ketika bepergian ke sejumlah daerah, termasuk Yogyakarta, memberinya inspirasi.
“Di sini pekarangan luas menjadi pendorong buat saya melihat tetangga sini halamannya luas-luas. Ketika kita sering jalan-jalan ke Jogja atau ke mana-mana, halamannya produktif semua. Saya terinspirasi dari situ,” ujar Tri.
Untuk mewujudkan gagasan tersebut, Tri harus menghadapi berbagai kendala. Ia kemudian berkoordinasi dengan Dinas Pertanian hingga akhirnya terbentuk Kelompok Wanita Tani (KWT) Kemuning pada 2019.
KWT Kemuning tidak lahir dengan modal besar maupun fasilitas lengkap. Kelompok itu tumbuh dari kemauan dan keinginan untuk membuktikan bahwa pekarangan rumah dapat memberikan manfaat.
Namun, bagi Tri, persoalannya bukan sekadar membuat halaman rumah menjadi hijau.
Ada persoalan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari para ibu: dapur dan kebutuhan rumah tangga.
Menekan Pengeluaran dari Pekarangan
Banyak keluarga di Prabumulih menggantungkan penghasilan dari perkebunan karet. Ketika harga karet tidak selalu bersahabat, pendapatan keluarga ikut tertekan. Di sisi lain, kebutuhan rumah tangga tetap harus dipenuhi.
Sayuran mungkin terlihat murah. Namun, jika harus dibeli setiap hari, pengeluarannya tetap terasa bagi keluarga dengan pendapatan terbatas.
Tri melihat kondisi tersebut dari dekat.
“Harga pokok mencekik, pupuk kimia merusak tanah, anggapan perumput tidak produktif dan itu benar-benar terjadi di lingkungan kami,” katanya.
Tri kemudian mencoba memulai dari rumahnya sendiri. Ia menanam berbagai tanaman di pekarangan dan menunjukkan kepada tetangga bahwa kebutuhan sayuran tidak selalu harus dibeli.
Menurutnya, kegemaran bercocok tanam dapat menjadi salah satu cara sederhana untuk menekan pengeluaran rumah tangga.
“Kalau kita senang menanam kita bisa menekan harga pokok yang terus naik, sementara kebutuhan ibu rumah tangga, terutama sayuran, itu pasti mengeluarkan uang yang tidak sedikit,” ujarnya.
Bagi sebagian orang, penghematan seratus ribu rupiah mungkin terlihat kecil. Namun bagi keluarga petani karet, angka tersebut bisa berarti.
Karena itu, KWT Kemuning tidak hanya berbicara tentang tanaman. Lebih jauh, kelompok ini menjadi ruang bagi perempuan untuk ikut membantu ekonomi keluarga melalui sesuatu yang tersedia di sekitar rumah.
Dari Sayuran hingga Mengelola Sampah
Perjalanan KWT Kemuning kemudian berkembang. Tidak hanya menanam sayuran, para anggota mulai belajar mengenai pupuk dan pengelolaan sampah.
Pada awalnya, kelompok tersebut sempat menerima bantuan pupuk kimia. Namun setelah mendapatkan pengetahuan lebih jauh, Tri dan anggota KWT mulai memahami pentingnya menjaga tanah dan lingkungan.
“Waktu pertama mengelola kebun, kita dapat bantuan pupuk kimia 50 kilo, dua karung. Hari ini kita belajar, ternyata pupuk kimia itu merusak tanah,” kata Tri.
Dari proses belajar itu, arah kegiatan KWT Kemuning mulai berkembang ke pertanian organik, pengelolaan sampah, pembuatan pupuk hingga pengolahan hasil pertanian.
Hasilnya, kelompok tersebut mulai menghasilkan berbagai produk yang memiliki nilai ekonomi.
Pendampingan untuk Membangun Kemandirian
Dalam perjalanan tersebut, KWT Kemuning mendapat pendampingan dari Pertamina EP Prabumulih .
Senior Officer CID Dedi Zikrian, mengatakan pendampingan diberikan karena terdapat potensi yang dapat dikembangkan di lingkungan masyarakat, mulai dari sumber daya alam, sumber daya manusia hingga lahan pekarangan yang masih luas.
Menurutnya, pemanfaatan potensi tersebut diharapkan dapat memberikan dampak terhadap perekonomian masyarakat.
Pendampingan yang diberikan tidak berhenti pada bantuan material.
Ada proses untuk memperkuat kelembagaan kelompok, administrasi, pengelolaan keuangan hingga peningkatan kemampuan anggota dalam pertanian organik.
“Bentuk pendampingannya itu kita mulai dari penguatan kelompok, penguatan kelembagaan kelompok, bagaimana mereka mengatur keuangan dengan sistem administrasinya. Secara teknis, kita dampingi dan berikan pelatihan kompetensi, terutama pertanian dengan organik,” jelas Dedi.
Perubahan tentu tidak terjadi dalam semalam.
Ada pengetahuan yang harus dipelajari. Ada waktu yang harus dilalui. Dan ada keberanian untuk mencoba.
Perlahan, KWT Kemuning mulai memiliki produk dan dikenal lebih luas.
Tri yang awalnya hanya mengajak tetangga menanam di pekarangan, kini mulai dipercaya menjadi narasumber dan berbagi pengetahuan mengenai pertanian organik berkelanjutan.
“Setelah kita belajar, ketemu dengan program itu tadi, Pertamina masuk dua tahun, tiga tahun. Tahun ketiga, keempat kita sudah mulai ada produk, sudah mulai dikenal, sudah mulai menjadi narasumber, mengajarkan tentang pertanian organik berkelanjutan,” kata Tri.
Menumbuhkan Semangat Perempuan
Dampak KWT Kemuning tidak hanya terlihat dari produk atau aktivitas pertanian.
Bagi para anggotanya, kelompok tersebut juga menjadi ruang untuk kembali beraktivitas, mendapatkan pengetahuan dan membangun kebersamaan.
Salah satunya dirasakan Krisnawati.
Sebagai perempuan lanjut usia, ia mengaku kegiatan KWT membuat semangatnya kembali tumbuh.
“Semangat kami tumbuh lagi. Mungkin cuma kegiatan di rumah sebagai ibu rumah tangga, ditambah lagi kegiatan. Walaupun kumpul-kumpul, tapi bermanfaat. Tadinya kami nggak ada kegiatan apa-apa, cuma di rumah. Dengan ini banyak sekali ilmu yang kami dapat,” ujarnya.
Hal serupa dirasakan Rice Epiana.
Setelah bergabung dengan KWT, ia mendapatkan pengetahuan mengenai berbagai tanaman dan mulai memanfaatkan pekarangan untuk memenuhi sebagian kebutuhan sayuran.
“Setelah ada KWT, KWT bisa menambah ilmu. Kalau selama ini nggak tahu namanya ada tanaman, kita biasanya tanam-tanam lagi pakai barang yang dari pasar. Kita juga biasanya beli sayuran. Setelah ada KWT, kita sudah bisa punya sendiri,” kata Rice.
Tantangan Setelah Pendampingan Berakhir
Setiap program pemberdayaan pada akhirnya menghadapi satu pertanyaan penting: apa yang terjadi ketika pendampingan berakhir?
Tujuan pemberdayaan bukan membuat kelompok bergantung pada pendamping. Sebaliknya, kelompok harus mampu berdiri dan berkembang secara mandiri.
PHR Zona 4 menyiapkan proses tersebut secara bertahap.
Dedi Zikrian mengatakan, KWT Kemuning dikembangkan selama lima tahun melalui peningkatan kapasitas dan pelatihan. Setelah itu, Pertamina diharapkan dapat keluar dari proses pendampingan, sementara kelompok melanjutkan kegiatan kewirausahaan secara mandiri.
Tantangan berikutnya bagi KWT Kemuning adalah menjaga keberlanjutan kelompok, mengembangkan produk dan memastikan manfaat kegiatan benar-benar dirasakan oleh para anggotanya.
Camat Prabumulih Barat, Edi Suwanto, berharap KWT Kemuning tetap berkelanjutan dan mandiri meski nantinya pendampingan Pertamina berakhir.
Ia juga berharap kegiatan yang dikembangkan KWT Kemuning dapat memberikan dampak ekonomi bagi anggotanya sekaligus menjadi contoh yang bisa disebarluaskan kepada kelompok wanita tani lainnya.
Dari Pekarangan, Tumbuh Kemandirian
Kini, ketika melihat KWT Kemuning, yang tampak bukan sekadar kebun.
Bukan pula hanya produk dan aktivitas ibu-ibu di sela pekerjaan rumah tangga.
Di baliknya ada perjalanan panjang seorang perempuan bernama Tri Ningsih.
Perempuan 58 tahun itu memilih tetap turun ke kebun, mengajak tetangga, belajar, kemudian mengajarkan kembali apa yang telah diperolehnya.
Ia membuka kesempatan bagi perempuan lain untuk melakukan hal yang sama.
Mungkin yang ditanam Tri sejak awal hanyalah sayuran.
Namun dari pekarangan itu tumbuh sesuatu yang jauh lebih besar.
Ada pengetahuan. Ada kebersamaan. Ada penghematan bagi keluarga. Ada nilai ekonomi dari sesuatu yang sebelumnya dianggap tidak berarti.
Dan yang tidak kalah penting, ada perempuan-perempuan yang kembali menemukan semangat di tengah rutinitas sebagai ibu rumah tangga.
Kini, tantangannya adalah menjaga semua itu tetap tumbuh, bahkan ketika pendampingan suatu hari harus berakhir.
Sebab keberhasilan KWT Kemuning bukan ketika mereka terus didampingi.
Melainkan ketika mereka mampu berjalan sendiri.
Dari sebuah pekarangan yang dulu belum produktif, Tri Ningsih mengajarkan satu hal sederhana: perubahan tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar.
Kadang cukup dari sepetak tanah.
Dari selembar halaman.
Dari tangan seorang ibu.
Dan dari keberanian untuk berkata:
“Kita coba.”
