Tanjung Enim, Sumatera Selatan — Suasana hari itu seperti biasa di Tanjung Enim, Sumatera Selatan (Sumsel). Suara deru mesin dan alat berat sayup-sayup terdengar dan makin siang makin jelas suaranya. Itulah aktivitas tambang batubara PT Bukit Asam Tbk.
PT Bukit Asam Tbk merupakan BUMN yang bergerak di bidang tambang batu bara. Kawasan tempat beroperasinya tambang tersebut, truk-truk raksasa beroperasi pelan mengangkut batu bara dari mulut tambang.
Rabu 29 April 2026, ada aktivitas bersejarah di tempat itu, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto meresmikan groundbreaking Proyek Hilirisasi Nasional fase kedua salah satunya DME (dimethyl ether). Satu langkah yang dapat mengubah kebijakan energi Indonesia dari impor menuju kedaulatan energi.
Presiden RI Prabowo Subianto menegaskan bahwa program hilirisasi ada pembuka jalan untuk kebangkitan Indonesia menjadi negara mandiri makmur dibidang energi dan ekonomi. “Hilirisasi merupakan jalan satu-satunya untuk kita lebi Makmur. Kitatidak mau sekdar jual bahan baku, kita mau olah turunannya di Inadonesia supaya nilai tambahnya dinikamati rakyat,” Ujar Presiden Prabowo Subianta saat mersmika pelatak batu pertama 13 proyek strategi nasional Hilirisasai Tahap II termasuk DME Tanjung Enim
Rosan Roeslani, CEO/Kepala Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara), menekankan bahwa proyek ini merupakan bagian dari upaya percepatan proyek strategis nasional dalam memperkuat fondasi ekonomi dan energi Indonesia.
“Pengembangan DME di Tanjung Enim menjadi langkah penting dalam mengurangi ketergantungan terhadap impor LPG, yang saat ini masih mencapai sekitar 80% dari kebutuhan nasional,” ungkapnya dalam acara Groundbreaking Proyek Hilirisasi Fase II.
DME bukan sekadar proyek biasa, tapi suatu langkah menuju Indonesia menjadi negara yang berdaulat di bidang energi hingga ke dapur dengan memanfaatkan sumber daya yang ada saat ini, yaitu batubara yang ada di Tanjung Enim. Selaras dengan hal tersebut, Direktur Utama MIND ID, Maroef Sjamsoeddin, menyatakan bahwa proyek hilirisasi batubara menjadi DME merupakan bagian dari strategi besar dalam meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral dan batubara Indonesia.
“MIND ID akan terus mendorong sinergi antar anggota grup dan mitra strategis untuk memastikan proyek hilirisasi berjalan optimal dan berkelanjutan, serta memberikan kontribusi nyata terhadap ketahanan energi nasional,” ujar Maroef.
Ketika Impor Menjadi Beban Keuangan Negara
Mungkin kita tidak menyadarinya bahwa selama ini api yang mengepul di dapur melalui LPG 3 kg sebagian besar bukan berasal dari produksi di dalam negeri. Data dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebutkan impor gas minyak cair atau liquefied petroleum gas (LPG) pada Januari–Februari 2026 mencapai 1,31 juta metrik ton atau setara 83,97% dari total kebutuhan sebanyak 1,56 juta metrik ton.
Direktorat Jenderal Minyak dan Gas (Migas) Kementerian ESDM melaporkan produksi LPG domestik pada Januari—Februari 2026, atau periode sebelum perang Iran meletus pada 28 Februari, hanya sekitar 130.000 metrik ton. Pada periode Januari hingga Februari 2026, kebutuhan LPG tercatat mencapai 26.000 metrik ton per hari,dan perkiraan kebutuhan LPG hingga tahun 2050 diproyeksikan hingga 17,4 juta ton.
Artinya, tanpa terobosan, hal tersebut akan menjadi beban yang semakin mendalam bagi keuangan negara.
Proyek hilirisasi di Tanjung Enim merupakan salah satu terobosan tersebut.
PT Bukit Asam Tbk bersama MIND ID dan Pertamina, bahu membahu untuk merancang pabrik yang dapat mengolah sekitar 7 juta ton batu bara per tahun menjadi 1,4 juta ton DME, yang dapat disetarakan dengan 1 juta ton LPG.
Angka tersebut nyata dan memiliki potensi pengurangan impor dan berbanding lurus dengan penghematan devisa negara.
Direktur Utama PTBA, Arsal Ismail, menekankan bahwa hilirisasi batubara menjadi DME ini merupakan bentuk kesiapan Perseroan dalam menjawab tantangan energi nasional sehingga bukan hanya sekedar proyek industri saja.
“Proyek ini juga sejalan dengan Asta Cita, khususnya dalam memperkuat kedaulatan energi, mendorong industrialisasi nasional, meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, serta menciptakan lapangan kerja yang produktif dan berkelanjutan,” jelas Arsal.
Ironi Masyarakat Sumsel dari lumbung Energi Tapi Masih Antri LPG
Menjadi ironi bagi masyarakat Sumsel, di mana Sumsel memiliki cadangan batu bara, minyak dan gas yang melimpah, tetapi masyarakatnya masih antri LPG, khususnya LPG 3 kg, dan proyek ini menjadi angin segar. Hal ini diungkap oleh Gubernur Sumsel Herman Deru saat menyaksikan hari yang bersejarah tersebut. Bagi Herman Deru, identitas Sumsel sebagai lumbung energi menjadi lebih tegas dengan kehadiran proyek ini dan menjadi solusi pengurangan impor energi.
“Sumatera Selatan merupakan daerah lumbung energi ; ada minyak, gas, dan batu bara, namun masyarakatnya masih antri LPG. DME ini menjadi solusi bagi masyarakat dan pemerintah ,” ujar Herman Deru.
Keluhan Masyarakat akibat Antrian LPG 3 Kg
Di sudut daerah 26 Ilir Palembang, warga terlihat berkumpul dalam antrean yang ternyata sedang menunggu mobil pengangkut gas LPG 3 kg datang. Kadang cepat, kadang tidak pasti.
Soleha adalah salah satu warga yang sudah mengantre sejak pagi hari dengan sabar menunggu kedatangan gas elpiji 3 kg.
“Pagi-pagi sekali saya datang ke pangkalan berharap di pangkalan masih tersedia gas elpiji 3 kg. Ternyata kosong, dan sekitar jam 10an baru akan datang, jadi saya berusaha menunggu agar tidak kehabisan,” ujar Soleha.
Senada dengan Soleha, Ita sudah sejak sehari sebelumnya bolak-balik ke pangkalan untuk membeli gas 3 kg.
“Sudah sejak kemarin saya mencari gas, tapi belum dapat juga, jadi mendengar kabar jam 10 ini akan datang, maka saya ikutan ngantri,” kata Ita.
Pemilik pangkalan Najib mengungkapkan antrian seperti ini sudah sering terjadi dan menjadi pemandangan yang biasa
“Biasanya antrian seperti ini biasa terjadi, warga sejak pagi sudah menunggu walaupun terkadang mobil pengangkut LPG baru datang agak siangan, mungkin mereka takut tidak kebagian”, ungkap Najib
DME: Mirip LPG, Tapi Lebih Bersih
Bagi masyarakat, istilah DME sepertinya asing terdengar. Kajian dari Ditjen Migas Kementerian ESDM mengungkap DME dibuat menyerupai LPG. Secara kasatmata, DME cair mudah disimpan dalam tabung yang memiliki tekanan rendah, serupa dengan LPG, dalam arti penyimpanan dan jalur distribusinya tidak mengalami perubahan yang signifikan. Tetapi tetap ada perbedaannya, dimana pembakaran DME lebih bersih, nyala apinya lebih kebiruan dan stabil, emisi nitrogen oksida-nya lebih rendah, tidak mengandung sulfur dan partikulat. DME bahkan diproyeksikan bisa menurunkan efek emisi gas rumah kaca dengan besaran sekitar 20 persen.
Dengan perbandingan, DME hanya menghasilkan sekitar 745 kg CO₂ per tahun dan LPG menghasilkan 930 kg. Karena yang akan menggunakannya adalah jutaan rumah tangga, selisih CO₂ yang dihasilkan pun cukup besar.
Yang tidak kalah penting, DME ini bahan bakunya berasal dari batubara berkalori rendah yang selama ini kurang bernilai ekonomis.
Dengan penggunaan teknologi yang tinggi, bahan yang selama ini bernilai ekonomi rendah, bisa menjadi solusi mengurangi impor
Adaptasi yang Tak Sederhana di Dapur
Perubahan penggunaan DME ini tidaklah mulus di tingkat masyarakat, adaptasi terhadap pola penggunaan energi bukan tidak mungkin menimbulkan persoalan.
Ada tantangan baru yang wajib masyarakat pahami sebelumnya. Hasil uji terap yang dilakukan Kementerian ESDM menunjukkan DME mudah dalam menyalakan kompor, stabilitas nyala api normal, mudah dalam pengendalian nyala api, warna nyala api biru , dan waktu memasak lebih lama dibandingkan dengan LPG. Secara teknis, pemanfaatan DME 100% layak untuk mensubstitusi LPG untuk rumah tangga dengan menggunakan kompor khusus DME. Waktu memasak lebih lama 1,1 sampai dengan 1,2 kali dibandingkan dengan menggunakan LPG
Jadi, dalam hal ini ibu rumah tangga akan merasakan perbedaan waktu memasak antara sebelum dan sesudah menggunakan DME , sehingga mungkin ekeknya terasa bagi ibu rumah tangga.
Ada yang juga perlu menjadi perhatian : kompor LPG yang digunakan masyarakat saat ini dapat digunakan bila ada campuran 20 persen DME dan 80 persen LPG, tetapi bila 100% DME maka diperlukan kompor khusus. Oleh sebab itu, transisi ini bukan hanya mengganti LPG dengan DME, tetapi juga menyiapkan pengganti peralatan dapur di dalam rumah tangga.
Proyek Baru Membuka Lapangan pekerjaan
Proyek ini menjadi angin segar bagi angkatan kerja yang belum mendapatkan pekerjaan. Berdasarkan data BPS (Badan Pusat Statistik), jumlah angkatan kerja berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) pada Agustus 2025 sebanyak 4.664,94 ribu orang, dengan tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada Agustus 2025 sebesar 3,69 persen. Maka, proyek DME ini dapat menjadi pilihan solusi. Diperkirakan penyerapan tenaga kerja proyek ini sekitar 5.000 orang. Hal ini diungkap oleh Direktur Hilirisasi dan Diversifikasi Produk PT Bukit Asam Tbk. (PTBA), Turino Yulianto. Turino dalam sambutannya di acara tersebut menegaskan bahwa proyek hilirisasi batubara menjadi DME mampu menyerap 5.380 tenaga kerja untuk mendorong industrialisasi batubara didalam negeri.
“Proyek ini diperkirakan ada sekitar 5.380 tenaga kerja yang akan terserap di proyek ini di mana 4.300 pada fase konstruksi, kemudian sekitar 1.010 pada fase operasi satu pabrik,” ungkap Turino.
Dari Proyek ke Kedaulatan Energi
Proyek merupakan langkah strategis yang besar di tingkat nasional, bagian dari strategi besar. Presiden RI Prabowo Subianto membentuk satuan tegas yang dipimpin oleh Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dan mengkoordinir lintas kementerian dan lembaga, termasuk Danantara, agar pelaksanaan proyek ini berjalan dengan baik.
Target yang diemban tidaklah mudah, yaitu memastikan pengurangan ketergantungan impor energi dan pemertahanan produksi dalam negeri.
DME Harapan Masa Depan Menuju Swasembada Energi
Menjelang sore, senja mulai tampak di Tanjung Enim.
Tapi harapan tak pernah padam. Aktivitas alat berat dan truk pengangkut batu bara tak lelah untuk menopang ekonomi negeri.
Konstruksi baja, pipa yang membentang, dan para pekerja proyek terus bekerja untuk membangun suatu harapan agar negeri ini menuju suatu era yang baru.
Nilai tambah mulai dibangun dari bongkahan batu bara yang sebelumnya hanya dijual dalam bentuk mentah. Daerah Tanjung Enim dulu dikenal sebagai penghasil batu bara, tapi perlahan akan mengubah wajahnya menjadi pengolah batu bara.
Agar asap yang mengepul di dapur tidak lagi berasal dari impor, tetapi dari produksi dalam negeri.
DME harapan masa depan menuju swasembada energi.
