PALEMBANG, SONORA – Perawatan kesehatan dan kecantikan berbahan cair yang dikemas dengan kemasan kaleng banyak ditemukan di pasaran, seperti hair spray, dry shampoo, penyegar wajah, parfum dan lain-lain. Produk tersebut digunakan dengan cara disemprotkan, dimana saat digunakan terdengar bunyi desisan seperti gas. Produk cairan bisa menyebar rata, karena didorong dengan gas yang disebut dengan hydrocarbon aerosol propellant atau HAP, yang merupakan produk turunan dari gas. Ternyata HAP merupakan salah satu produk yang dihasilkan Kilang Pertamina di Refinery Unit III Plaju.
HAP sebagai varian produk gas domestik, merupakan gas pendorong atau aerosol ramah lingkungan yang mendukung kebijakan pemerintah dalam mengatasi pemanasan global dan murni dibuat dari bahan alam serta tidak berpotensi dalam penipisan lapisan ozon.
HAP yang diproduksi Kilang RU III Plaju, tersedia dalam berbagai jenis dengan spesifikasi disesuaikan dengan kelompok industri penggunanya. Seperti HAP-32 untuk industri parfum dan korek api gas, HAP-39 untuk industri hair spray, HAP-42 untuk industri air freshner HAP-52 untuk indsutri insektisida, dan HAP-85 untuk industri cat semprot, yang menggunakan propellant sebagai pendorong produk aerosol.
Region Manager Communication Relations & CSR Sumbagsel Dewi Sri Utami mengatakan HAP merupakan produk gas berasal dari crude yang diolah di Crude distiller Unit (CDUs) kemudian masuk ke Gas Plant Unit. Setelah melewati sejumlah proses, produk gas dari pengolahan kilang menghasilkan LPG, Musicool dan HAP. Rata-rata produksi HAP di kilang Plaju sebesar 10 – 15 ton/bulan, dimana disalurkan ke Depot LPG Pulau Layang, yang berada di bawah Marketing Operation Region II Sumbagsel.
Produk HAP sendiri pada masa pandemi ini termasuk yang mengalami peningkatan permintaan, seiring dengan peningkatan produk sanitasi baik itu hand sanitizer, diisnfektan, dan produk cair lain yang memerlukan propellant aerosol sebagai pendorong.
Penulis : Fernando Oktareza
Sumber Foto : Humas Pertamina
