Site icon Sonora FM Palembang

Jejak Hijau Tambang Emas PT Antam UBPE Pongkor

PT Antam UBPE Pongkor (TNGHS) Bogor

 

Sonora Palembang – Di dalam hutan lebat dan perbukitan Pongkor, Kabupaten Bogor, beroperasi sebuah tambang emas BUMN PT Antam Tbk.Unit Bisnis Pertambangan Emas (UBPE) Pongkor, yang sudah beroperasi sejak 1994. Tambang emas ini tidak hanya dikenal sebagai penghasil emas tetapi juga lambang bagaimana industri bisa berdampingan dengan alam di mana perusahaan berkomitmen untuk menjaga kelestarian alam dan kehidupan masyarakat sekitarnya.

Lokasi penambangan emas ini dikawasan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak (TNGHS), tepatnya di Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, pada ketinggian 500–900 meter di atas permukaan laut. Karena lokasinya berada di TNGHS maka tambang ini cukup unik dimana teknik penambangan melalui bawah tanah sehingga dapat menjaga ekosisstem hutan tripis yang ada diatasnya.

Dari Perut Bumi ke Logam Mulia

General Manager UBPE Pongkor, Nilus Rahmat, menjelaskan bahwa proses penambangan dilakukan dengan sistem tambang bawah tanah. “Kami menggunakan metode cut and fill, sebuah teknik yang memungkinkan bijih emas diambil secara bertahap dan lubang tambang kembali diisi dengan material pengganti,” ujarnya.

Tahapan penambangan dimulai dari drilling atau pengeboran, dilanjutkan dengan blasting atau peledakan terkontrol. Material hasil peledakan kemudian diangkut menggunakan alat Load Haul Dump (LHD) menuju ore pass. Dari sana, bijih emas memasuki tahap ore handling sebelum masuk ke proses pengolahan.

Di fasilitas pengolahan, Asisten Manager Cyanida, Yudistira Sudesno menjelaskan bijih emas dihancurkan (crushing) dan digiling (milling) hingga menjadi partikel halus. Proses berikutnya adalah leaching dengan larutan sianida, di mana emas larut dan diikat oleh karbon aktif melalui metode Carbon-in-Leach (CIL). Setelah itu, emas dilepaskan dari karbon melalui proses elution, diendapkan lewat electrowinning, dan dilebur menjadi dore bullion. Produk antara ini kemudian dikirim ke UBPP Logam Mulia Jakarta untuk dimurnikan menjadi emas dengan kadar 99,99 persen.

Dari Ore Handling ke Tailing Management

Yudistira Sudesno, menegaskan bahwa rantai produksi emas di Pongkor dimulai dari ore handling hingga pengelolaan tailing. “Kami tidak hanya bicara soal produksi, tetapi juga bagaimana limbah diolah. Tailing hasil pengolahan bijih emas kami detoksifikasi agar kandungan sianida berkurang. Setelah itu, material tailing digunakan kembali untuk backfilling di lubang tambang,” jelasnya.

Menurut Yudistira, sistem ini bukan hanya mengurangi dampak lingkungan, tetapi juga memperkuat struktur tambang bawah tanah. “Dengan backfilling, lubang tambang tidak dibiarkan kosong. Ini bagian dari komitmen good mining practice,” tambahnya.

Pengawasan Ketat di Lapangan

Di lapangan, pengawasan menjadi faktor kunci. Sugianto, Kepala Pengawas Tambang, menekankan bahwa setiap tahapan penambangan harus berjalan sesuai prosedur. “Mulai dari peledakan, pengangkutan bijih, hingga pengolahan, semua diawasi ketat. Keselamatan kerja adalah prioritas. Kami pastikan standar K3 dijalankan agar operasi aman,” katanya.

Sugianto menambahkan bahwa pengawasan bukan hanya soal teknis, tetapi juga soal manusia. “Pekerja tambang harus pulang dengan selamat. Itu prinsip dasar kami. Karena itu, setiap kegiatan tambang selalu diawali dengan briefing keselamatan,” ujarnya.

Menanam Kembali Hutan, Menjaga Hayati

Di sisi lain, perhatian terhadap lingkungan menjadi bagian tak terpisahkan dari Pongkor. Rengga Wasesa, Mining Environment UBPE Pongkor, menjelaskan bahwa perusahaan menjalankan program penanaman kembali hutan (revegetasi) di kawasan bekas tambang. “Kami menanam pohon lokal yang sesuai dengan ekosistem Pongkor. Tujuannya agar tanah pulih dan keanekaragaman hayati tetap terjaga,” ungkapnya.

Program ini tidak dilakukan sendiri. Antam melibatkan masyarakat sekitar dalam kegiatan penghijauan. “Kami ingin masyarakat merasa memiliki hutan yang dipulihkan. Dengan begitu, penghijauan bukan hanya proyek perusahaan, tetapi gerakan bersama,” tambah Rengga.

Selain revegetasi, Pongkor juga melakukan konservasi flora dan fauna endemik. Satwa liar di kawasan tambang dimonitor secara rutin untuk memastikan habitat mereka tetap aman. Antam bekerja sama dengan lembaga lingkungan dan universitas untuk penelitian biodiversitas.

Wahyudin dan Rumah Belajar Garitan

Di tengah cerita tentang tambang dan hutan, muncul sosok Wahyudin, seorang warga lokal yang dikenal sebagai “lokal hero”. Ia menggagas Rumah Belajar Garitan di Desa Kalongliud, Kecamatan Nanggung, Bogor, yang diresmikan pada Juli 2025.

Rumah Belajar Garitan bukan sekadar ruang belajar, melainkan pusat pertanian sirkular terpadu. Wahyudin bersama warga menghidupkan kembali 35 hektar lahan tidur menjadi lahan produktif. Mereka mengembangkan pupuk organik cair (POC) dari limbah lokal seperti keong mas dan urin domba, serta membuat sistem irigasi tetes sederhana yang hemat air hingga 60 persen.

Hasilnya, biaya pupuk bisa ditekan hingga 50 persen, sementara pendapatan kelompok tani meningkat sekitar 65 persen. “Rumah Belajar Garitan lahir dari kegelisahan saya melihat anak-anak dan warga yang kurang mendapat akses pendidikan lingkungan. Saya ingin mereka tahu bahwa Pongkor bukan hanya tambang emas, tetapi juga tempat hutan tumbuh kembali,” kata Wahyudin.

Di rumah belajar itu, anak-anak diajak menanam pohon, mengenal flora dan fauna, serta belajar tentang pentingnya menjaga alam. “Kalau hutan rusak, anak cucu kita tidak akan punya tempat bermain. Karena itu, kami bersama Antam berusaha menanam kembali, menjaga satwa, dan mengajarkan anak-anak tentang pentingnya alam,” tambahnya.

Rumah Belajar Garitan kini menjadi simbol kolaborasi antara masyarakat dan perusahaan. Antam mendukung kegiatan ini dengan menyediakan bibit pohon dan fasilitas pendukung, sementara Wahyudin dan warga menggerakkan anak-anak untuk ikut serta.

Pongkor adalah cermin perjalanan industri ekstraktif Indonesia. Sejak 1994, tambang ini telah menghasilkan emas, tetapi juga meninggalkan jejak hijau di kawasan konservasi Gunung Halimun-Salak. Antam ingin meninggalkan warisan bukan hanya berupa logam mulia, tetapi juga hutan yang kembali hijau, ekosistem yang tetap lestari, dan masyarakat yang tumbuh bersama.

Dengan kombinasi proses produksi yang terintegrasi, pengawasan ketat, serta program reklamasi dan pelestarian hayati yang melibatkan masyarakat, UBPE Pongkor berupaya menjadi contoh praktik pertambangan emas yang efisien, aman, dan ramah lingkungan.

 

Exit mobile version