
“ Prilaku seseoarng berbeda-beda dalam menghadapi ketidaknyamanan, missal kepanasan atau gerah maka akan berusaha agar bisa menjadi nyaman,” ujarnya.
Ada tiga factor yang mempengarui kenyamanan antara lain adalah suhu, suhu yang nyamannya antara 24 hingga 27 derajat celcius. Kelembapan udara, nyamannya antara 40 hingga 60 persen. Angin, nyamananya kecepatannya antara 0,3 hingga 0,5 meter per detik.
“ factor iklim, bangunan yang menghadap arah matahari akan menyebabkan lebih panas. Eleman pengguna seperti halaman luas, di cor atau conblock akan berpengaruh terhadap kenyamanan. Buka jendela yang lebar, berkaitan dengan energy agar angin bisa masuk atau dengan cross ventilation,” tukasnya.
Alat bantu yang yang bisa digunakan untuk membantu membentuk kenyamanan termal antara lain adalah suhu termo, RH humidity untuk mengukur kelembapan udara, anemometer untuk mengukur kecepatan angina.
“ Pengukuran dilakukan beberapa kali, disesuaikan dengan iklim. Saat mendung hasil pengukuran berbeda dengan pengukuran saat cuaca panas,” tukasnya.
Simulator dapat dipakai untuk mengetahui kondisi kenyamanan termal bangunan. Dengan memasukan data dari pengukuran dilapangan akan diperoleh kondisi nyaman atau tidak.
“ Dimasukkan nilai-nilai agar nyaman. Dengan tanaman juga bisa menurunkan suhu ruangan. Simulator yang bisa digunakan antara lain adalah pmf tools, untuk mengetahui suhu ideal ruangan. Basic comfort, simulasi dilakukan dengan cara online. Sayangnya, Indonesia belum memiliki standardisasi kenyaman termal yang dikembangkan sesuai dengan iklim, karakter masyarakat, dan arsitektural tradisional Indonesia. Standardisasi kenyamanan termal di Indonesia yang berlaku saat ini adalah kenyaman termal yang dikeluarkan oleh SNI. Nilai parameter kenyamanan termal tersebut didapat dari mengadopsi nilai dari standardisasi internasional yang diambil tidak menyeluruh sehingga kehilangan substansinya,” ujarnya.
Penulis : jati
Sumber foto : koleksi pribadi