Sonora Palembang – Pada awal abad ke-20, Sumatera Selatan menjadi saksi awal perminyakan Indonesia dengan berdirinya dua kilang bersejarah: Kilang Plaju dan Sungai Gerong. Kini keduanya bagian dari PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), Kedua kilang tersebut telah melalui perjalanan panjang dari era kolonial hingga nasionalisasi oleh pemerintah Indonesia, menjadikannya pilar penting dalam upaya kemandirian energi nasional.

Kilang minyak Plaju pertama kali berdiri pada tahun 1904 atas prakarsa perusahaan minyak Belanda, Royal Dutch Shell, dengan kapasitas produksi awal 10 ribu barel per hari (MBCD). Kilang ini berfungsi menampung minyak mentah dari daerah Prabumulih, Pendopo, dan sekitarnya untuk operasional kendaraan militer Belanda. “Kilang ini dulu sangat vital bagi Belanda, terutama dalam mendukung logistik militernya,” kata Perliansyah, Pejabat Sementara Area Manager Comrel & CSR RU III Plaju.
Dua dekade kemudian, tepatnya pada tahun 1926, perusahaan minyak Amerika, Stanvac, mendirikan Kilang Sungai Gerong yang berlokasi di seberang Plaju. Kilang Sungai Gerong memiliki kapasitas yang lebih besar, mencapai 70 MBCD. Tyas Fernanda, dosen sejarah Universitas Sriwijaya, mengungkapkan bahwa lokasi tepi Sungai Musi dipilih dengan alasan strategis untuk distribusi. “Sungai Musi memungkinkan Belanda untuk mengangkut minyak dari kedua kilang ini, baik ke wilayah kolonial lain maupun ke luar negeri,” jelas Tyas.
Seiring kemerdekaan Indonesia, dorongan untuk menasionalisasi aset penting semakin kuat, termasuk kilang minyak yang masih dikelola perusahaan asing. Tahun 1965, pemerintah mengambil alih Kilang Plaju dari Shell melalui perusahaan negara, Pertamin, yang kemudian pada tahun 1968 bergabung dengan Permina menjadi Pertamina. Pada tahun 1970, Kilang Sungai Gerong milik Stanvac juga diambil alih oleh Pertamina.
Langkah nasionalisasi ini, menurut Perliansyah, bertujuan memastikan bahwa “sumber daya energi yang vital dikelola pemerintah demi kepentingan nasional.” Sjahrulluddin (84) pensiunan Pertamina yang pernah bekerja di Stanvac sejak 1962 hingga diambil alih oleh pemerintah Indonesia, juga menjadi saksi peralihan ini, masih segar ingatannya saat proses tersebut. “Setelah diambil alih, operasional kilang sepenuhnya dikelola oleh pekerja Indonesia. Tidak ada lagi pekerja asing di sini,” kenangnya.
Tyas Fernanda menjelaskan bahwa dasar hukum nasionalisasi kilang ini merujuk pada Undang-Undang No. 86 Tahun 1958 tentang nasionalisasi perusahaan asing, yang diterapkan oleh pemerintah saat itu. Langkah ini memperkuat kendali pemerintah atas sumber daya energi penting dalam negeri.
Pada tahun 1972, Pertamina memutuskan untuk mengintegrasikan jalur pipa kedua kilang ini, yang dipisahkan oleh Sungai Komering. Pengintegrasian jalur pipa bertujuan meningkatkan efisiensi pengolahan minyak di Kilang Plaju dan Sungai Gerong. “Selain pipa, dibangun juga jembatan penghubung yang dapat dilalui kendaraan dan pekerja antar-kilang. Ini untuk memperkuat sinergi operasional,” jelas Perliansyah.
Pemeliharaan Besar-Besaran Tahun 2023
Memasuki era modern, Pertamina terus mengembangkan kedua kilang ini sejalan dengan kebutuhan energi yang terus meningkat. Pada akhir 2023, Pertamina melakukan pemeliharaan besar atau Major Turn Around selama 55 hari. Proses ini melibatkan lebih dari 8.000 tenaga kontraktor serta ratusan pekerja internal dan antar-unit.
“Pemeliharaan ini bertujuan memperbaruhi peralatan, meningkatkan efisiensi energi, dan memperkuat operasional. Sebelum pemeliharaan dimulai, kami memastikan pasokan BBM di Sumatera Bagian Selatan tetap stabil dengan meningkatkan produksi beberapa bulan sebelumnya,” ujar Perliansyah. Usai pemeliharaan, kapasitas Kilang Plaju meningkat dari 85 MBCD menjadi 126 MBCD, sesuai kapasitas desain awal. “Ini sejalan dengan strategi Pertamina untuk menekan biaya produksi dan meningkatkan efisiensi pengolahan minyak,” tambahnya.
Masa Depan Kilang Plaju dan Sungai Gerong
Peran penting kedua kilang ini dalam pasokan energi nasional membuat Pertamina terus mengupayakan inovasi demi mendukung kemandirian energi. “Pertamina berkomitmen untuk terus berinovasi, mengadopsi teknologi terbaru, dan menerapkan praktik berkelanjutan. Kilang Plaju dan Sungai Gerong diharapkan menjadi contoh industri energi yang lebih efisien dan ramah lingkungan,” ucap Perliansyah.
Sebagai saksi sejarah perminyakan Indonesia, Kilang Plaju dan Sungai Gerong tidak hanya menjadi pusat pengolahan minyak mentah tetapi juga lambang transformasi kedaulatan energi Indonesia. Dengan komitmen inovasi dan keberlanjutan, kilang ini siap menghadapi tantangan energi masa depan dan berkontribusi pada masa depan energi yang lebih bersih dan efisien di Indonesia.
