Site icon Sonora FM Palembang

Menyalakan Asa dari  Sumur Tua Kampung Minyak Muara Enim

Sonora Palembang – Matahari akan segera terbit ketika kendaraan meninggalkan Kota Muara Enim pagi itu. Air dari hujan semalam masih membasahi jalan yang membelah ladang dan semak belukar. Saat melakukan perjalanan diawal bulan Maret 2026 kondisi cuaca masih musim hujan.

Tujuan kami adalah  Kampung Minyak. Saat kami keluar dari pusat kota, aspal berubah menjadi jalan yang dipenuhi lumpur. Kemudian terdengar suara pompa dan genset yang berulang di tengah keheningan pagi padahal kami belum sampai ke tujuan

Lokasi yang kami tuju berada sekitar enam kilometer dari pusat kota Muara Enim.

Akses ke  Kampung   Minyak sangat sulit ditembus saat hujan. Kami harus berhati-hati agar terhindar dari genangan air dan lumpur, hingga akhirnya sampai di sana.

Meskipun demikian, ada cerita tentang sesuatu yang tak kunjung padam.

Dalam perjalanan menuju lokasi, di sisi kiri dan kanan  jalan, terbentang semak belukar dan perkebunan penduduk. Tidak disangka, daerah ini dulu memiliki sejarah yang sangat panjang dalam industri minyak di Indonesia.

Julukan Kampung Minyak muncul dari sejarah panjang yang terkubur di daerah ini. Sejak era kolonial Belanda, daerah ini telah menjadi bagian dari aktivitas eksplorasi dan produksi minyak di Sumatera Selatan.

Jauh sebelum nama daerah ini dikenal seperti sekarang, manifestasi minyak telah ditemukan di daerah Enim ini sejak tahun 1864. Ini merupakan tonggak sejarah pertama perminyakan di Indonesia. Daerah Muara Enim termasuk dalam “Onderafdeling Lematang Ilir”. Belanda benar-benar menggali lebih dalam sumur minyak mereka pada tahun 1919.

Untuk minyak di Kampung Minyak sendiri, eksplorasi modern lebih masif setelah BPM/Bataafsche Petroleum Maatschappij aktif melakukan eksplorasi di  Sumatera pada pertengahan tahun 1900-an.

Disebut Kampung Minyak karena daerah ini pernah menjadi daerah pemukiman pekerja dan sumur minyak kolonial Belanda. Hingga kini, masih tersisa sumur-sumur tua dan bangunan-bangunan bekas Belanda.

Sumur-sumur di bor, minyak diekstrak, tetapi waktu telah berlalu.

 Aktivitas eksplorasi kolonial Belanda terhenti, sumur-sumur menjadi terbengkalai dan tua.

Semak berduri perlahan-lahan tumbuh menutupi area tersebut.

Bagi sebagian besar orang, sumur-sumur tua itu hanya bagian dari masa lalu.

 

Masyarakat Muara Enim Optimis Sumur Tua Masih Menghasilkan

Namun, masyarakat Muara Enim masih optimis terhadap sumur-sumur tua tersebut.

Kendaraan-kendaraan yang melintas di suasana desa mulai terlihat dari kejauhan.

Suara mesin pompa minyak berulang kali terdengar mendominasi suasana.

Tercium bau menyengat minyak mentah dan bahan bakar (BBM). Mata terasa perih, mungkin karena tidak terbiasa.

Saat di lokasi, terlihat para pekerja memeriksa pompa dan mengikat tali untuk memastikan proses produksi berjalan lancar.

Sebagian besar pekerja adalah penduduk setempat.

Tidak ada yang menyangka bahwa kegiatan operasi di Kampung Minyak itu dilakukan oleh Koperasi Unit Desa (KUD).

Sebelumnya, pemerintah membuka peluang kerja sama untuk dapat mengoperasikan sumur-sumur tua yang hingga kini tidak aktif. Kebijakan-kebijakan tersebut merupakan bagian dari upaya untuk mendorong produksi nasional sekaligus memperkuat ekonomi lokal. Ferry Juliantono, Menteri Koperasi, mengatakan bahwa sumur tua boleh dikelola oleh unsur masyarakat.

“Koperasi dan unsur masyarakat diizinkan oleh pemerintah untuk melakukan pengelolaan sumur-sumur tua, yang dapat membantu kesejahteraan masyarakat, alih-alih dikelola secara ilegal dan juga dapat menambah produksi minyak nasional,” kata Ferry.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mencatat bahwa Indonesia memiliki lebih dari 13.000 sumur tua yang tersebar di berbagai daerah. Beberapa di antaranya telah lama berhenti berproduksi, terbengkalai, dan terlupakan. Oleh karena itu, pemerintah membuka peluang bagi Koperasi, BUMD, dan UMKM untuk dapat mengelola sumur-sumur tua melalui kerangka hukum kerja sama. Harapannya bukan hanya untuk meningkatkan produksi energi nasional, tetapi juga untuk membuka sumber daya hidup baru bagi masyarakat di daerah ladang minyak.

Setelah berhenti beroperasi selama beberapa dekade, akhirnya sumur-sumur tua itu mati dan tidak berfungsi lagi.

Aktivitas eksplorasi kolonial Belanda berhenti, sumur-sumur itu menjadi terbengkalai dan tua.

Bagi sebagian besar masyarakat, sumur-sumur itu hanyalah monumen bersejarah.

Tapi ada masyarakat sekitar Muara Enim yang masih berharap pada sumur-sumur tua tersebut.

Kisah KUD Kharisma Jaya Mendapatkan Kontrak dari PT Pertamina

Selama puluhan tahun tidak aktif, akhirnya sumur tua tersebut menolak padam.

Di balik aktifnya sumur tua Kampung Minyak, ada sebuah KUD Kharisma Jaya yang menaungi pekerja untuk melakukan aktivitas produksi.

Di antara mereka yang menghidupkan kembali sumur-sumur tua itu adalah Zulfakar Ketua KUD Kharisma Jaya.

Pria yang tinggal tidak jauh dari Kampung Minyak tersebut masih mengingat bagaimana gagasan mengelola sumur tua melalui koperasi pernah dianggap mustahil.

Bahkan oleh sebagian orang di sekitarnya.

“Kalau dipikir-pikir sekarang memang seperti mimpi,” ujarnya.

Pada tahun 2013, bersama anggota KUD Kharisma Jaya, ia mulai mengetuk berbagai pintu birokrasi, mulai dari rekomendasi bupati. Berkas demi berkas diajukan. Pertemuan demi pertemuan dilakukan. Namun, hasilnya tak selalu sesuai harapan.

Sering kali mereka pulang dengan tangan kosong.

“Beberapa kali kami gagal. Prosesnya panjang sekali. Pernah suatu kali kami pulang setelah menempuh perjalanan berjam-jam hanya untuk mendengar bahwa izin belum bisa diproses, tetapi kami yakin kalau masyarakat harus bisa ikut terlibat mengelola sumur tua secara legal,” kenangnya.

Sepuluh tahun bukan waktu yang singkat.

Harapan kadang muncul, kadang menghilang.

Namun, koperasi itu tetap bertahan.

Hingga 2023, penantian panjang tersebut akhirnya terbayar. KUD Kharisma Jaya memperoleh kontrak dari PT Pertamina.

Bagi Zulfakar, penantian itu adalah bukti bahwa mimpi yang diperjuangkan bertahun-tahun akhirnya menemukan wujudnya.

Melalui skema angkat-angkut, KUD Kharisma Jaya memperoleh hak untuk mengelola 41 sumur tua Kampung Minyak.

Sebuah perjuangan yang berbuah manis.

Efek Berganda dari Aktivitas di Kampung Minyak

Selain mendapatkan kontrak KUD Kharisma Jaya juga dapat membuka lapangan kerja baru.

“Terus terang kami mendapatkan keuntungan dari kegiatan ini, dan bisa mempekerjakan sekitar 36 orang,” kata Zulfakar.

Angka itu mungkin terlihat kecil. Namun, di Kampung Minyak, angka tersebut berarti 36 keluarga yang kini memiliki sumber penghasilan tetap.

Masyarakat yang sebelumnya bekerja serabutan sekarang mendapatkan penghasilan tetap setiap bulannya.

Tugas mereka ada yang menjadi operator,  sopir, petugas administrasi dan pengangkut peralatan.

Dampaknya tidak berhenti pada pekerja yang berada di lokasi sumur. Aktivitas produksi yang kembali hidup ikut menggerakkan usaha-usaha kecil di sekitar Kampung Minyak.

Sebuah warung manisan sederhana tampak ramai didatangi pekerja yang singgah membeli minuman, makanan ringan, hingga kebutuhan sehari-hari. Pemilik warung, Sofyan, mengaku merasakan perubahan sejak aktivitas KUD Kharisma Jaya berjalan.

Sebelum sumur-sumur tua kembali berproduksi, sebagian besar pelanggannya hanya warga sekitar. Kini, pekerja yang keluar masuk kawasan produksi menjadi pelanggan tetap setiap hari.

“Dulu paling yang datang warga kampung saja. Pendapatan warung sekitar Rp100 ribu sehari. Sekarang, kalau pekerja lagi ramai, bisa dua sampai tiga kali lipat. Alhamdulillah, hasilnya bisa membantu kebutuhan rumah tangga dan biaya sekolah anak,” ujar Sofyan.

Di siang hari, warung Sofyan nyaris tak pernah sepi. Pekerja yang keluar-masuk lokasi produksi mampir membeli minuman, rokok, atau sekadar beristirahat sejenak. Aktivitas yang kembali hidup di sekitar sumur tua membuat kampung yang dulu cenderung sepi kini lebih ramai dibandingkan dengan beberapa tahun lalu.

Di bawah terik matahari siang, Riki, salah satu pekerja , masih sibuk memeriksa salah satu peralatan produksi. Sesekali ia istirahat sejenak sambil mengusap peluh yang membasahi wajahnya.

Pria yang lahir dan besar di Kampung Minyak itu tak pernah membayangkan akan bekerja di industri migas.

Dulu ia hanya melihat sumur-sumur tua sebagai bagian dari pemandangan sehari-hari.

Kini sumur yang sama menjadi sumber penghidupan keluarganya.

Saat ditanya soal pekerjaannya, Riki sempat terdiam beberapa detik sebelum tersenyum kecil. Tangannya masih dipenuhi noda oli ketika ia menjawab.

“Seperti mimpi bisa bekerja di Koperasi Kharisma Jaya, ekonomi keluarga terbantu dan punya pengalaman bekerja di industri migas,” ungkap Riki.

Sama seperti apa yang dirasakan Susanto yang tahun ini anaknya akan kuliah di Palembang.

“Tahun ini anak saya mulai kuliah sehingga memerlukan biaya yang besar. Penghasilan dari koperasi sangat membantu biaya kuliah,” kata Susanto.

Produksi KUD Kharisma Jaya Mencapai 40 Barel Per Hari

 Di lapangan terlihat seseorang yang berpostur kokoh dan berwibawa, tidak banyak bicara, tetapi tengah mengawasi aktivitas pekerja dari kejauhan. Ia adalah Achmad Yani, Advisor KUD Kharisma Jaya. Ia paham bahwasanya tantangan yang terbesar adalah setelah produksi dimulai.

Lokasi yang berat tentu menjadi tantangan sehari-hari.

Jika hujan turun, akses menuju lokasi berubah menjadi lumpur yang menyulitkan aktivitas operasionalnya.

Kalau musim kemarau datang, debu dan panas turut berkontribusi menghadirkan tantangan lainnya.

Tetapi, hal itu buat Achmad Yani itu tidak ada apa-apanya.

“Kondisi apa pun pasti selalu ada tantangannya dan itu hal normal, hujan berganti panas, tetapi pekerjaan tetap harus berjalan,” ujarnya.

Dari 41 sumur yang dikelola, tujuh sudah beroperasi, dengan produksi mencapai sekitar 40 barel minyak per hari. Untuk perusahaan migas besar, angka tersebut bisa sangat minim. Tetapi untuk KUD, itu sebuah pencapaian luar biasa.

“Sebarel pun tetap bermanfaat buat kami, apalagi dari 7 sumur itu sudah ada, produksinya kelihatan sekitar 40 barel,” kata Achmad Yani dengan sedikit tersenyum.

Di tingkat nasional, setiap barel minyak sangat bermanfaat. Pemerintah menargetkan lifting minyak nasional tercapai 610 ribu barel pada 2026. Di Tengah minimnya produksi, sumur-sumur tua tidak bisa diabaikan,  Sumur-sumur tua ini bagian dalam usaha menjaga pasokan energi nasional.

Pendampingan dari PT Pertamina

Keberhasilan menghidupkan kembali sumur tua itu tidaklah mudah.

Selama  aktivitas produksi, proses pendampingan secara rutin dilakukan oleh tim PT Pertamina Zona 4 Regional 1.

Secara rutin, tim lapangan berkumpul untuk melakukan inspeksi terhadap aktivitas produksi dan dokumen operasional.

Keselamatan menjadi penekanan utama.

Field Supervisor Pertamina EP Limau, Gusti F. Andi, mengatakan mengelola sumur tua dituntut memenuhi standar industri migas.

“Keselamatan dan mutu produksi tidak dapat dikompromikan. Karena itu kami melakukan pendampingan,” katanya.

Menurut Gusti, tujuan utama tidak hanya mengalirkan produksi yang paling penting, tetapi juga memastikan proses berlangsung dengan aman dan berjalan secara berkelanjutan.

 

Secercah Harapan dari kampung Minyak

Sampai menjelang pukul empat sore, aktivitas di Kampung Minyak mulai sepi. Pekerja satu per satu menghentikan aktivitasnya, dan suara mesin pompa perlahan menghilang. Sang surya mulai perlahan menghilang ditelan awan.

Tetapi, Kampung Minyak bukan lagi sama seperti beberapa tahun lalu. Sumur-sumur yang dulunya ditinggalkan sekarang menghasilkan. Besok akan kembali terdengar suara mesin pompa, pekerja akan kembali datang, dan minyak akan kembali keluar dari perut bumi. Di

Kampung Minyak, secercah harapan mengalir bersamaan dengan minyak keluar dari perut bumi.

Penulis Achmad Aulia

Poto Koleksi Pribadi

Exit mobile version