
“ PTM adalah baik tapi penuh resiko. Betul hipotesis yang menyatakan sekolah dibuka akan muncul klaster-klaster baru. Kita menghadapi situasi khusus, klaster terjadi di anak dibawah usia 12 tahun atau SD. Perlu kelakuan khusus terkait larangan-larangan dan anjuran agar mengikuti prokes yang ketat,” ujarnya.
Dari awal masyarakat sering keliru memahami situasi atau kode-kode penting terkait satu hal dalam hal ini covid-19. Misalkan ketika ada penurunan 93,3% maka masyarakat berephoria dan sering melupakan. Bahwa penurunan 93 % berarti ada 7 % penambahan kasus setiap harinya dan hal itu kurang dipahami, masyarakat berephoria dan meninggalkan prokes.
Ketika anak-anak SD harus super ketat menyampaikan arahan, bimbingan kepada mereka. Ini belum sepenuhnya dilakukan. Kita lupa dengan bagaimana cara berdampingan dengan covid-19. Ketika diluncurkan PTM terbatas baru dua jam sebagai uji coba, artinya hal tersebut kurang berhasil, terbukti munculnya klaster baru. Perlu dievaluasi bagaimana implementasi prokes yang ketat ke anak-anak. Tidak hanya diingatkan sekali tapi perlu perlakuan khusus.
PTM selama dua jam sudah berdampak dan menjadi keprihatinan kita, tetapi kita tidak boleh surut. Yang terjadi klaster distop dulu, dievaluasi bagaimana penerapan prokes dilingkungan tersebut. Ada langkah-langkah konkret, terukur dan terkendali. Disisi mana kelemahan-kelemahananya dan ada langkah-langkah perbaikan.
“ Kita harus sabar. Pendidik, orang tua harus sabar untuk tidak bersentuhan, sabar prokes, sabar tidak saling menyalahkan. Masukan-masukan positif disampaikan ke pejabat agar ada perbaikan. Sabar menjalani semua ini,” tutupnya.
Penulis : jati
Sumber foto : koleksi pribadi