Site icon Sonora FM Palembang

Panas Bumi, Denyut Hijau untuk Masa Depan

DCIM100MEDIADJI_0009.JPG

Sonora Palembang – Di bawah lebatnya hutan tropis Sumatera Selatan (Sumsel), tersembunyi kekayaan alam yang tidak kasat mata namun sangat berharga, yaitu panas bumi. Sumber energi bersih ini tersimpan jauh di dalam perut bumi, menjadi alternatif energi yang berkelanjutan bagi masa depan. Salah satu perusahaan yang memanfaatkan energi panas bumi ini adalah PT Pertamina Geothermal Energy, Tbk (PGE), yang mengelola berbagai proyek panas bumi di Sumsel dengan menjaga keseimbangan antara teknologi dan pelestarian lingkungan. Dalam artikel ini, kita akan menggali lebih dalam tentang apa itu panas bumi, bagaimana proses terbentuknya, pemanfaatannya, dan peran besar Sumsel sebagai lumbung energi panas bumi di Indonesia.

Apa Itu Energi Panas Bumi?

Menurut Ir. Pri Utami, M.Sc., Ph.D., IPM, ahli panas bumi dari Fakultas Teknik Jurusan Geologi, Universitas Gadjah Mada, energi panas bumi adalah energi yang berasal dari dalam bumi, yang dihasilkan oleh aktivitas radioaktif alami di dalam lapisan bumi. “Proses ini mengeluarkan panas yang kemudian terjebak dalam reservoir bawah tanah. Panas bumi dianggap sebagai sumber energi terbarukan karena memiliki siklus yang berkelanjutan di alam, dan juga ramah lingkungan karena tidak menghasilkan emisi gas rumah kaca seperti pembakaran bahan bakar fosil” ujarnya,

Panas bumi memiliki keunggulan dibandingkan energi terbarukan lainnya karena bisa dihasilkan terus-menerus tanpa terpengaruh oleh kondisi cuaca atau waktu.  “Indonesia saat ini menduduki peringkat kedua di dunia dalam pemanfaatan panas bumi untuk pembangkit listrik, setelah Amerika Serikat. Hal ini karena Indonesia memiliki banyak lokasi yang dilalui oleh cincin api atau ring of fire, wilayah dengan aktivitas geotermal tinggi yang menyimpan potensi panas bumi besar” ucap Pri Utami.

Proses Terbentuknya Panas Bumi

Energi panas bumi berasal dari panas yang dihasilkan oleh inti bumi, yang diperkirakan mencapai ribuan derajat Celcius. Panas ini bergerak dari lapisan terdalam ke arah permukaan bumi, melalui retakan dan rongga dalam kerak bumi yang dipenuhi air. Ketika air ini terpanaskan, terbentuklah uap panas yang terjebak di dalam reservoir atau kantong panas bumi bawah tanah.

Menurut Pri Utami, proses pengambilan panas bumi dimulai dengan pengeboran hingga mencapai reservoir panas bumi. “Uap yang dihasilkan dari proses ini diekstrak dan digunakan untuk menggerakkan turbin yang terhubung ke generator pembangkit listrik. Setelah selesai digunakan, uap didinginkan dan dikembalikan ke dalam tanah untuk menjaga keseimbangan alam. Inilah yang disebut sebagai siklus berkelanjutan yang ramah lingkungan,” jelasnya.

Pemanfaatan Panas Bumi

Selain digunakan untuk pembangkit listrik, panas bumi juga memiliki berbagai kegunaan lain, seperti untuk pemanas ruang di negara-negara beriklim dingin, pengeringan hasil pertanian, hingga keperluan rekreasi di kolam air panas alami. Di Indonesia, panas bumi lebih banyak digunakan untuk pembangkit listrik, khususnya dalam bentuk Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP). Dengan potensi yang tersebar di berbagai wilayah, energi panas bumi diproyeksikan akan menjadi salah satu pilar utama dalam mendukung transisi energi hijau di Indonesia.

Pengelolaan Panas Bumi oleh PT Pertamina Geothermal Energy di Sumatera Selatan

Sumatera Selatan merupakan salah satu wilayah di Indonesia dengan potensi panas bumi. PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) telah menjadi pelopor dalam pengelolaan panas bumi di Indonesia selama lebih dari 40 tahun dan kini memimpin transisi energi hijau dengan menerapkan teknologi canggih dan peduli lingkungan di wilayah operasi mereka. Dengan mengelola beberapa area panas bumi. PGE berperan penting dalam menyediakan listrik berbasis energi terbarukan bagi masyarakat Indonesia.

Salah satu area dengan potensi panas bumi terbesar di Sumsel adalah Lumut Balai. General Manager PGE Area Lumut Balai, Catur Hendro Utomo, menyebutkan bahwa Sumatera memiliki potensi panas bumi yang sangat besar sepanjang Bukit Barisan, mulai dari Sumatera Utara hingga Lampung. “Sepanjang Bukit Barisan, hampir seluruhnya, mulai dari Sumatera Utara, Sumatera Selatan, hingga Lampung, merupakan lumbung-lumbung panas bumi yang telah disurvei dan siap dikembangkan,” ujarnya.

Potensi panas bumi di area Lumut Balai sendiri mencapai 110 MW. Saat ini, PGE telah mengoperasikan PLTP Lumut Balai Unit 1 dengan kapasitas 55 MW, dan pembangunan Unit 2 dengan kapasitas tambahan 55 MW telah dimulai sejak 19 Desember 2023. “Unit 2 ini diharapkan dapat beroperasi pada awal tahun 2025, menambah kapasitas listrik dari energi bersih di Indonesia” Edwil Suzandi, Direktur Eksplorasi & Pengembangan PGE.

Komitmen untuk Masa Depan Energi Bersih

Edwil Suzandi juga menegaskan komitmen PGE akan menambah kapasitas dalam mencapai target kapasitas Panas Bumi  terpasang.

“Dengan kapasitas terpasang saat ini sebesar 672 MW di berbagai lokasi, PGE terus berupaya menjadi pemimpin dalam pengembangan panas bumi di tanah air dengan capaian target 1 GigaWatt (GW) dalam 2 hingga 3 tahun ke depan.

Dampak Panas Bumi untuk Masyarakat

PLTP Lumut Balai Unit 1 yang saat ini beroperasi mampu menghasilkan listrik dengan kapasitas 55 MW. Catur Hendro Utomo menjelaskan bahwa kapasitas ini cukup untuk menyuplai listrik ke sekitar 55.000 rumah, dengan asumsi setiap rumah menggunakan daya 1.000 Watt. “Selain memberikan akses listrik yang stabil, proyek ini juga berdampak positif terhadap kehidupan masyarakat sekitar, dengan membuka peluang pengembangan ekonomi lokal, khususnya bagi industri kecil dan pariwisata,” kata Catur.

Masa Depan Panas Bumi di Indonesia

Dengan potensi panas bumi yang besar, Indonesia berada di garis terdepan dalam pengembangan energi terbarukan. Proyek-proyek yang digarap oleh PT Pertamina Geothermal Energy, seperti Lumut Balai, menjadi bukti nyata bahwa energi bersih adalah masa depan Indonesia yang lebih hijau dan berkelanjutan. Panas bumi bukan hanya sumber energi, tetapi juga simbol cinta pada bumi pertiwi, seperti pantun yang terus mengalir menghargai alam dan kehidupan.

Dari Lumut Balai kami melangkah,
Memetik energi dari dalam bumi,
Dengan alam kami berserah,
Untuk Indonesia yang lestari

Penulis Achmad Aulia

Exit mobile version