Sonora Palembang – Meskipun penyakit tuberkulosis atau TBC sudah ada obatnya, namun dalam proses pengobatannya dibutuhkan kepatuhan dalam minum obatnya, sebab kalau tidak maka bisa menimbulkan penyakit TB kebal obat. Dalam acara Seminar Penanggualangan Tuberkulosis Bagi Masyarakat Awam yang digelar oleh Dinas Kesehatan Kota Palembang bertempat di Hotel Beston Palembang (23/11/2020), Plt.Kadinkes Kota Palembang dr.Hj.Fauzia,M.Kes melalui Plh.Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Kota Palembang Muh. Idrus, S.Kp, M, Kes mengatakan bahwa seseorang yang mengidap penyakit tuberkulosis (TBC) perlu memiliki kepatuhan minum obat sampai tuntas, sebab bila tidak patuh maka bisa menyebabkan kambuh lagi, bahkan bisa bertambah parah.
” TB ada 2 macam, TB sensitif obat dan TB kebal obat. TB sensitif yang belum pernah menderita TB, diperiksa dengan alat cepat tes molekuler, akan terbukti kena kuman yang masih sensitif dan bisa diobati denga obat TB biasa selama 6 bulan, TB kebal obat terjadi pada pasien yang pernah berobat tapi tidak teratur atau tidak patuh, baru 2 bulan berobat sudah merasa enak, badan sehat, sehingga menghentikan pengobatan padahal harus 6 bulan. Saat 2 bulan kuman memang menurun, tapi baru pingsan belum mati, bila pengobatan dihentikan akan kambuh lagi dan bisa kebal obat biasa,” ujarnya.
ia menambahkan orang yang mengalami TB Kebal obat harus dirujuk ke rumah sakit rujukan dan ditentukan tim ahli klinis, dan disentralisasi oleh puskesmas yang melanjutkan pengobatannya.
” bisa 9 sampai 11 bulan bahkan 2 tahun pengobatannya, lebih baik mencegah, kalau sudah minum obat harus patuh,” imbuhnya.
ia mengatakan diperkirakan ada 9548 kasus TB di Palembang, bila dirata ratakan dalam 1000 orang ada 5 sampai 6 orang yang menderita TB.
” bila batuk berdahak, diobati dengan antibiotik 2 minggu tidak sembuh, tidak nafsu makan, berat badan menurun, keringat malam tanpa aktifitas, batuk berdarah apabila sudah parah. Bila pasien merasa gejala tersebut harus menghubungi fasilitas kesehatan dengan protokol kesehatan. Jangan takut pengobatan gratis dan tidak perlu khawatir karena obat yang diberikan adalah standar WHO,” pukasnya.
Penulis : Jati Sasongko
Sumber Foto : Koleksi Pribadi