PALEMBANG SONORA – Memasuki bulan Agustus 2020 di prediksi masuk musim kemarau. Dr. Ir. Ahmad Kurnain, M.Sc. Kelompok Ahli Badan Restorasi Gambut, Ilmu Tanah dalam talkshow dengan media daring (10/8/2020), yang mengangkat tema Tinggi Muka Air Ekosistem Gambut Sumatera Selatan mengatakan bahwa perlu ada kerjasama dan sinergisitas semua pihak dalam rangka mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan gambut.
“ perlu ada kerjasama dan sinergisitas dalam rangka menjaga kebasahan dan memperhatikan tata kelola air,” ujarnya.
Ia menambahkan system gambut terdapat suatu keterkaitan, ketika salah satu komponen melakukan perusakan oleh salah satu komponen, maka upaya upaya pihak lain menjadi tidak efektif.
“ perlu kerjasama yang kuat, sejak tahun 2014, kelemahan kita kurang sinergisitas, dalam penanganan dan pencegahan kebakaran hutan dan lahan dan gambut,” imbuhnya.
Ia mengatakan kondisi terkini lahan gambut Indonesia, saat ini sudah memasuki musim kemarau, di bagian Sumatera, bulan Juli sudah terjadi area yang terbakar, sekarang sudah masuk ke Kalimantan, terutama Kalimantan Barat.
“ ancaman kekeringan sudah mulai nampak. Kewaspadaan mesti ditingkatkan dibulan bulan sekarang hingga dua bulan kedepan,” ujarnya.
Ia menambahkan system gambut secara alami jenuh dengan air, artinya tergenang, karena proses terbentuknya memang demikian. Kebakaran terjadi manakala orang mulai memanfaatkan lahan gambut, missal untuk lahan perkebunan atau pertanian.
“ tentu harus ada prasyarat tumbuh yang disiapkan, salah satunya bagaimana kita mengurangi tingkat kejenuhan air dilahan gambut, pembangunan saluran drainase dilakukan, akibatnya terjadi penurunan tinggi muka air,” imbuhnya.
Ia mengatakan bahwa ancaman yang ada saat ini bukan hanya kebakaraan hutan dan lahan gambut, tetapi terjadi perubahanan dimensi social ekonomi masyarakat akibat pandemic. Pemerintah focus menangani covid-19, dikhawatirkan yang berkaitan dengan pengendalian dan pencegahan kebakaran lahan menjadi tidak focus.
Penulis : Jati Sasongko
Sumber foto : Koleksi Pribadi
