PALEMBANG SONORA – Bulan Agustus dan September diperkirakan sudah memasuki musim kemarau. Desindra Deddy Kurniawan, SP. Kepala Stasiun Meteorologi SMB II Palembang kepada Sonora (3082020) mengatakan bahwa saat ini di wilayah Sumsel sudah masuk monsun Australia, sifatnya kering dan dingin, artinya pertumbuhan awan menjadi kecil, peluang terjadi hujan kecil di wilayah Sumsel.
“ untuk bulan Agustus memasuki musim kemarau, puncaknya September. Di wilayah Sumsel perlu diperhatikan akan memasuki puncak musim kemarau Agustus – September,” ujarnya.
Ia menambahkan memasuki musim kemarau, masyarakat perlu mewaspadai terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Saat ini sudah terpantau 19 titik hotspot di wilayah Sumsel.
“ 9 hotspot di Mura, 9 di Muratara dan 1 di Oki. Tingkat kepercayaanya (confidence) sedang, yaitu : 30 sampai 79 %,” imbuhnya.
Ia mengatakan ada tiga jenis hotspot dari citra satelit, kategori rendah : 0 – 29 %, sendang 30 – 37 % dan tinggi 80 – 100 %. Bila sudah level tinggi dapat mengganngu penerbangan karena mengganggu jarak pandang atau visiability. Informasi dari bidang klimatologi BMKG di Sumsel, bulan Agustus masih ada peluang turun hujan, tapi peluangnya rendah, kurang dari 50 mm/10 hari.
“jika prediksinya benar, bisa membantu memadamkan titik api,” pukasnya.
Dari prediksi, untuk beberapa bulan kedepan curah hujan akan semakin berkurang, khsususnya diwilayah timur, namun masih ada potensi hujan. Yang potensi curah hujannya tinggi di wilayah barat seperti lubuk linggau, lahat. Wilayah timur dan lahan gambut perlu diwaspadai timbul kebakaran hutan. Memasuki musim kemarau temperature di permukaan bumi akan meningkat, karena tidak ada tutupan awan, sehingga sinar matahari langsung ke permukaan bumi.
“ suhunya berkisar antara 23 – 32 derajat Celcius, untuk dataran tinggi 17 – 31 derajat celcius,” ujarnya.
Penulis : Jati Sasongko
Sumber Foto : Google
