
“ Pondok pesantren didirikan untuk mendidik anak-anak yang soleh dan soleha. Sangat disayangkan pondok pesantren melaksanakan pembelajaran dengan kekerasan. Itu tidak diajarkan dalam Islam. Di pondok pesantren diajarkan bagaimana menjadi anak yang memiliki budi pekerti baik, berakhlak baik dan patuh kepada orang tua. Kalau ada kekerasan di pondok pesanteran, sangat disayangkan karena pondok pesantren bertujuan membentuk karakter yang baik bukan dengan kekerasan,” ujarnya.
Ia menambahkan di pondok pesantren miliknya para santri dididik dengan baik. Kalaupun ada kesalahan maka diberikan hukuman yang wajar seperti push up, menulis Alquran atau dengan puasa.
“ Ada program puasa khusus, 3 hari, 7 hari, 100 hari sampai dengan setahun. Bagaimana guru-guru mengajar denagn lembut, tidak hanya mengajar tapi juga mendidik,” tukasnya.
Jumlah santri di pondok pesantren Sultan Mahmud Badaruddin berjumlah 150 santri yang tinggal di pondok dan ada yang diluar pondok. Total keseluruhan ada 850 santri.
“ Yang mondok tidak boleh keluar. Jadwal di pondok padat dan diawasi 24 jam. Ada organisasi santri yang mengawasi para santri. Dari pagi hingga malam hari diisi dengan belajar ilmu pengetahuan dan agama. Di hari minggu diisi dengan kegiatan ekstrakurikuler seperti pencak silat dan karate,” ujarnya.
Selama pandemic kegiatan tetap berlangsung seperti biasa. Wali santri yang ingin mengantarkan sesuatu ke santri dengan menitipkannya ke satpam.
“ yang belajar pulang pergi tidak diperbolehkan datang ke pondok untuk mengantisipasi penyeberan covid. Santri di dalam tidak boleh keluar, kalau ada wali mengantar sesuatu titip satpam,” tukasnya.
Ia mengatakan penyebab terjadinya perkelahian di dalam pondok pesantren karena santri di pondok pesantren beragam latar belakangnya. Ada santri yang memiliki karakter keras, bercampur dengan lainnya.
“ Tidak semua santri berasal dari keluarga yang baik, sekolah yang baik. Banyak wali santri memasukkan anaknya ke pondok karena disekolah asalnya bermasalah. Mereka memasukan anaknya ke pondok untuk didik. Sifat-sifat yang lama ini, dibawa-bawa santri ke yang lain, sehingga terjadilah perkelahian,” ujarnya.
Ia berharap dengan kejadian di Demak tidak terjadi lagi, semua pengurus pondok pesantren dapat berbenah diri dan dapat berkordinasi antara pengurus pondok dengan ustad-ustad pondok, dan tidak mengambil tindakan sendiri.
Penulis : jati
Sumber foto : koleksi pribadi