
“ Doom scrolling adalah tingkah laku seseorang untuk menelusuri dunia maya secara berlebihan. Baik scrolling media social maupun berita-berita negative tanpa henti,” ujarnya.
Scrolling doom lebih ke mencari berita-berita yang bersifat negative. “ Manusia memang unik, hal negative menjadi sesuatu yang menarik bagi mereka daripada hal-hal yang positif,” tukasnya.
Pengguna media social di Indonesia mencapai 150 juta lebih, selama pandemic orang lebih banyak dirumah sehingga banyak waktu melihat media-media social. Dampaknya lebih kepada mental dan phisik. “ Phisik pasti ke mata karena mata tertuju ke satu layar handphone atau laptop. Terlalu lama melihat layar akan mengganggu mata. Kadang kurang minum karena terlalu asik juga bisa mempengaruhi mata,” ujarnya.
Bagi mental, akan memicu kecemasan karena ada fenomena baru, missal ada yang kena covid didaerahnya padahal setelah ditelusuri ternyata ada didaerah lain. Ketakutan-ketakutan akan membuat emosi cenderung negative terhadap sesuatu yang baru. Cenderung negative karena bermain dengan persepsi dan tidak berkomunikasi langsung. “ Ini akan menjadi efek buruk bagi tubuh,” tukasnya.
Efek lain adalah gangguan tidur. Rasa penasaran terhadap sesuatu yang baru akan memicu susah tidur. Gangguan lainnya adalah kelelahan. Kelelahan memicu seseorang mudah marah dan sensitive.
“ Meskipun pandemic ada yang bisa dilakukan. Pertama adalah disiplin. Batasi penggunaan media social, paling tidak satu jam sebelum tidur jangan membuka handphone karena akan terbawa-bawa dalam tidur. Kedua, sadari apa tujuan mengakses informasi. Gali dulu informasinya dengan benar jangan menshare informasi yang belum tentu benar karena akan memicu stress. Ketiga, pastikan bahagia. Banyak aktifitas dirumah yang bisa dilakukan seperti melakukan hobi yang positif,” ujarnya.
Penulis : jati
Sumber foto : koleksi pribadi