Dari Pelabuhan Boom Baru Kopi Sumatera Selatan Menuju Pasar Dunia

Pagi itu. Di Desa Gunung Agung, Kecamatan Tanjung Sakti Pumi, Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan, aktivitas warga perlahan bergerak mengikuti datangnya hari. Sebagian warga terlihat menggelar terpal di halaman rumah, sementara yang lain bersiap berangkat ke kebun yang membentang di lereng-lereng perbukitan.

Di salah satu rumah, seorang pria paruh baya bernama Konhardani tampak sibuk bersama putranya Viktor Petualang. Keduanya merapikan terpal yang akan digunakan untuk menjemur hasil panen kopi. Di samping mereka, belasan karung tersusun rapi menunggu untuk dibuka.

Setelah terpal terbentang sempurna, satu per satu karung dibuka. Butiran kopi berwarna kecoklatan tumpah memenuhi permukaan terpal. Cuaca pagi itu tampak bersahabat. Langit cerah memberi harapan bahwa proses pengeringan akan berjalan lancar.

Dengan cekatan, Konhardani meratakan hamparan biji kopi menggunakan tangannya. Ia memastikan setiap butir mendapatkan panas matahari secara merata agar cepat kering dan kualitasnya tetap terjaga. Bagi petani kopi seperti dirinya, cuaca adalah mitra sekaligus penentu nasib hasil panen.

Konhardani Selama puluhan tahun ia menggantungkan hidupnya dari Kopi yang tumbuh subur di dataran tinggi Tanjung Sakti. Dari menanam, merawat, memanen, hingga mengeringkan biji kopi sebelum dijual, seluruh proses telah menjadi bagian dari kesehariannya. Di balik hamparan kopi yang dijemur pagi itu, tersimpan perjalanan panjang seorang petani yang telah mengabdikan sebagian besar hidupnya pada komoditas andalan pegunungan Lahat tersebut. Namun sayang harga saat ini sangat tidak bersahabat sehingga sebagian kopi disimpan dan sebahagian lagi dijual untuk kebutuhan sehari hari

“Saat ini harga kopi lebih rendah dari tahun  kemarin, jadi kami tidak menjual semua kopi hasil panen, yang dijual secukupnya saja untuk keperluan dapur dan sekolah anak,” ujar Konhardani.

Selama ini Konhardani menjual kopinya ke pengepul dan akan dibawa ke Lampung untuk dijual kembali ke luar pulau Sumatera, bahkan diekspor. Ada rasa kecewa dari Konhardani di mana kopi dari desanya seperti tidak diakui, malah kopinya terkadang dianggap berasal dari daerah lain.

Dari kebun, kita beralih ke pabrik pengolahan. Rico Subianto, yang akrab disapa Ko Cuncun, adalah Manajer CV Bola Dunia di Lahat. Pabrik kopi yang sudah berdiri sejak 1978 ini memiliki kapasitas produksi 24-25 ton kopi bubuk per bulan. Di sinilah biji kopi hijau dari petani disulap menjadi produk siap ekspor.

“Usaha ini dimulai sejak 1978 hingga sekarang ini, tentu saja dengan dua produk inilah mampu bersaing dengan merek ternama lainnya, selain Bola Dunia, kini ada juga merek Bukit Serelo yang lebih premium dan mengangkat nama kopi lokal dari Lahat”, ujar Rico

Namun, ketika bicara soal pelabuhan, Rico tak bisa menahan harapannya. Ia tahu betul bahwa selama ini keterbatasan infrastruktur pelabuhan menjadi batu sandungan.

“Ingin rasanya ekspor bisa dilakukan dari pelabuhan di Sumatera Selatan”, harap Rico

Dari pabrik, kopi-kopi itu berpindah tangan ke para eksportir. Salah satu yang paling bersemangat adalah Muhammad Rafi, eksportir muda asal Sumatera Selatan. Hingga Juli 2025, ia sudah mengekspor kopi sebanyak delapan kali.

Tapi ironisnya, ekspornya melalui provinsi tetangga sebelah.

“Kopi Sumsel itu kualitas unggulan, tapi ironisnya, nama besarnya justru dibawa keluar daerah. Kami ingin nilai tambahnya tetap di sini, dinikmati petani dan pelaku usaha lokal.”

Tapi yang paling menggelitik adalah pernyataan Rafi tentang “nama besar” kopi Sumsel. Ia menyayangkan ironi panjang yang sudah berlangsung bertahun-tahun. Sama halnya dengan Konhardani dan Rico,  Rafi sedikit menyayangkan nama Sumsel tenggelam dikarenakan kopi tidak keluar dari pelabuhan di Sumsel.

“Kopi Sumsel itu kualitas unggulan, tapi ironisnya, nama besarnya justru dibawa keluar daerah. Kami ingin nilai tambahnya tetap di sini, dinikmati petani dan pelaku usaha Sumatera Selatan”, ungkap Rafi

Jawaban atas kegelisahan Konhardani, Rico dan Rafi  sebenarnya berada di tepian Sungai Musi, tempat Pelabuhan Boom Baru menjadi gerbang terakhir kopi Sumsel menuju dunia.

Di tingkat kebijakan, Gubernur Sumatera Selatan, Herman Deru, tak pernah berhenti menyuarakan potensi besar sekaligus ironi panjang kopi Sumsel. Dalam sambutannya pada acara Kick Off Launching Kadin Expo 2025 yang lalu  di Palembang, beliau berkata:

“Sumatera Selatan adalah daerah penanam kopi terluas ketiga di dunia. Bukan hanya di Indonesia, tapi di dunia.”

Lalu dengan nada kecewa, dalam acara Launching Proyek Pembangunan Pelabuhan New Palembang di Tanjung Carat, Banyuasin, pada 9 April 2026, beliau mengungkapkan fakta pahit:

“Kopi kita ini luasnya nomor tiga terbesar di dunia, ada 280.000 hektare yang ada di Sumatera Selatan. Ada Arabika, Robusta, sampai Amerika. Tapi semuanya itu terpaksa harus melalui pelabuhan di provinsi-provinsi tetangga.” Ungkap Deru.

Potensi itu bukan isapan jempol. Badan Pusat Statistik mencatat pada 2024 Sumatera Selatan menghasilkan sekitar 209 ribu ton kopi, menjadikannya produsen kopi terbesar di Indonesia. Dari hamparan kebun seluas lebih dari 267 ribu hektare, jutaan kilogram kopi setiap tahun berangkat dari lereng Bukit Barisan menuju pasar nasional hingga mancanegara.

Namun perjalanan kopi Sumatera Selatan menuju pasar dunia selama ini menyimpan sebuah ironi. Meski ditanam di lereng-lereng Bukit Barisan, dipanen oleh petani di Lahat, Pagaralam, Empat Lawang, dan Muara Enim, sebagian besar kopi itu justru berangkat ke luar negeri melalui Pelabuhan Panjang di Lampung.

Bukan karena kualitas kopi Sumsel kalah bersaing. Sebaliknya, kopi dari Sumatera Selatan dikenal memiliki cita rasa yang kuat dan menjadi salah satu yang paling dicari di pasar ekspor. Hanya saja, jalur perdagangan kopi internasional lebih dahulu tumbuh dan mengakar di Lampung. Di sana, jaringan eksportir, gudang penyimpanan, hingga perusahaan perdagangan telah terbentuk selama puluhan tahun. Akibatnya, kopi dari Sumsel lebih sering mengikuti arus yang sudah tersedia daripada menciptakan jalurnya sendiri.

Dari kebun-kebun di pegunungan, kopi biasanya dikumpulkan oleh pengepul sebelum dibawa ke gudang-gudang besar di Lampung. Di tempat itulah biji kopi disortir, dikelompokkan berdasarkan mutu, lalu disiapkan untuk memenuhi standar pasar internasional. Ketika akhirnya berlayar ke berbagai negara, tak sedikit kopi yang berasal dari Sumatera Selatan itu justru lebih dikenal sebagai kopi Lampung.

Faktor logistik turut memperkuat keadaan tersebut. Bagi banyak pelaku usaha, jalur ekspor melalui Lampung dianggap lebih praktis karena ekosistem perdagangan dan pelabuhannya telah lama terbentuk. Sementara itu, Pelabuhan Boom Baru di Palembang harus menghadapi tantangan khas Sungai Musi, mulai dari alur pelayaran yang panjang hingga kondisi pasang surut yang memerlukan pengaturan khusus.

Kondisi inilah yang selama bertahun-tahun membuat nama besar kopi Sumatera Selatan seolah berjalan di belakang daerah lain. Padahal, di balik setiap karung kopi yang keluar melalui Lampung, ada keringat petani-petani Sumsel yang sejak subuh bekerja di lereng pegunungan untuk menghasilkan biji kopi berkualitas dunia.

 

Tapi di balik semuanya itu ada satu lembaga yang menjadi jembatan terakhir sebelum kopi meninggalkan tanah Sumsel: PTP Nonpetikemas Cabang Palembang di Pelabuhan Boom Baru.

Ade Affandi, Branch Manager PTP Nonpetikemas Cabang Palembang, dengan tegas menyatakan komitmen perusahaannya:

“PTP Nonpetikemas Cabang Palembang berperan penting dalam kelancaran ekspor ini dengan menyediakan layanan bongkar muat 24/7 dan sinergi dengan stakeholders sangat vital dalam mendukung keberhasilan ekspor kopi Sumatera Selatan ke mancanegara.”

Layanan 24 jam sehari, tujuh hari seminggu bukanlah sekadar jargon. Di pelabuhan yang berlokasi di tepian sungai dengan tantangan pendangkalan dan jadwal pasang surut air Sungai Musi, operasional 24/7 membutuhkan koordinasi luar biasa. Tapi itulah yang diberikan PTP Nonpetikemas.

Walau ekspor banyak dilakukan oleh tetangga sebelah, Sumsel pernah melakukan ekspor kopi melalui pelabuhannya.

Ekspor kopi perdana Sumatera Selatan Minggu (19/1/2025). Ekspor kopi perdana yang terdiri dari 19,5 ton kopi jenis Arabica grade 1 asal Semendo, Kabupaten Muara Enim dan jenis robusta grade 1 asal Kota Pagar Alam diekspor ke Australia, sedangkan 39,6 ton green bean kopi jenis robusta grade 4 asal Pagar Alam diekspor ke Malaysia.

Fiona Sari Utami, Senior Manager Corporate Secretary PT Pelabuhan Tanjung Priok, mengatakan, Keberhasilan ekspor perdana ini menjadi bukti nyata peran PT Pelabuhan Tanjung Priok dalam meningkatkan daya saing produk lokal, sekaligus berkontribusi mendukung program pemerintah untuk memperluas pasar internasional dan membuka peluang baru bagi perekonomian nasional.

Sebagai pelabuhan sungai terbesar di Sumatera Selatan, Pelabuhan Boom Baru memiliki peran strategis dalam menopang aktivitas ekspor dan impor daerah. PTP Nonpetikemas Cabang Palembang mengoperasikan terminal multipurpose yang melayani berbagai komoditas mulai dari karet, pupuk, semen, alat berat hingga produk perkebunan seperti kopi. Pelabuhan ini didukung dermaga sepanjang 507 meter, lapangan penumpukan seluas 21.855 meter persegi serta berbagai peralatan bongkar muat yang beroperasi selama 24 jam sehari.

Namun posisi Boom Baru yang berada jauh di hulu Sungai Musi menghadirkan tantangan tersendiri. Kapal yang masuk dari muara harus menempuh perjalanan berjam-jam menyusuri alur sungai sebelum bersandar di dermaga. Di sejumlah titik, pendangkalan sungai membuat kapal harus menyesuaikan waktu pelayaran dengan pasang surut air.

Hari mulai sore di Desa Gunung Agung. Matahari yang sejak pagi membantu mengeringkan kopi perlahan tenggelam. Konhardani kembali memeriksa hamparan biji kopi yang dijemur di halaman rumahnya. Sesekali ia membalik biji-biji itu dengan tangannya, memastikan tingkat kekeringannya merata sebelum disimpan atau dijual.

Bagi Konhardani, biji kopi itu mungkin hanya terlihat sebagai hasil panen yang akan membantu memenuhi kebutuhan dapur, membayar biaya sekolah anak, atau menutupi ongkos hidup sehari-hari. Namun ia tahu, perjalanan kopi tidak berhenti di halaman rumahnya. Dari desa kecil di kaki pegunungan Lahat, kopi itu akan berpindah tangan ke pengepul, menuju gudang pengolahan, lalu dibawa ke pelabuhan sebelum menempuh perjalanan ribuan kilometer melintasi lautan.

Sebagian akan dinikmati oleh orang yang sama sekali tidak dikenal oleh Konhardani nun jauh di Australia. Sebagian lainnya bisa saja diseduh dan dinikmati oleh tetangga kita di Malaysia. Aroma yang tercium dari secangkir kopi di negeri seberang itu berawal dari tangan-tangan petani yang bekerja sejak pagi, dari tanah yang subur, dan dari harapan yang tumbuh di lereng-lereng gunung di Sumatera Selatan.

Di sepanjang rantai perjalanan itu, ada banyak pihak yang terlibat. Petani yang menanam dan merawat, pelaku usaha yang mengolah, eksportir yang membuka pasar, hingga pelabuhan yang menjadi gerbang terakhir sebelum kopi meninggalkan tanah Sumatera Selatan. Semuanya terhubung oleh satu komoditas yang sama, tetapi juga oleh satu harapan yang sama: “Kopi”. Kopi Sumatera Selatan tidak hanya dikenal karena kualitasnya, melainkan juga karena identitasnya.

Ketika malam sudah tiba di Desa Gunung Agung,cerita Konhardani belum selesai. Besok, lusa ataupun tahun depan, dunia tetap menunggu nikmatnya kopi dari pegunungan dan pedesaan.

Konhardani mungkin tak pernah melihat kapal yang membawa kopinya ke Australia atau Malaysia. Namun, setiap kali ia menjemur biji kopi di halaman rumahnya, sesungguhnya ia sedang mengirimkan sebagian cerita Sumatera Selatan ke dunia. Dan dari halaman rumah sederhana itulah perjalanan panjang secangkir kopi dimulai.

Penulis Achmad Aulia

Poto Koleksi Pribadi



Leave a Reply