- November 4, 2026
- Posted by: Dina Apriana
- Category: Artikel, Berita, Berita Lokal, Informasi, Informasi

PALEMBANG,SONORA – Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) mulai mengubah cara kerja jurnalistik, mulai dari pencarian informasi, pengolahan data, hingga produksi konten multimedia.
Perubahan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam kegiatan AI for Journalism yang berlangsung di UIN Raden Fatah Palembang, Rabu (4/11/2026).
Kegiatan ini Mengusung Tema “Penguatan jurnalisme melalui Pemanfaatan Kecerdasan buatan yang Bertanggung jawab”, peserta diperkenalkan dengan berbagai pemanfaatan teknologi AI untuk mendukung pekerjaan jurnalistik.
Tidak hanya menerima materi, peserta juga mengikuti praktik langsung menggunakan sejumlah platform kecerdasan buatan untuk mengembangkan bahan liputan menjadi produk jurnalistik.
Dalam sesi pemaparan materi, peserta diajak memahami dasar-dasar AI dan transformasi ruang redaksi, termasuk peluang serta tantangan yang muncul seiring perkembangan teknologi tersebut.
Materi yang disampaikan oleh Dina Apriana dari Radio Sonora Palembang dan Tasmalinda dari suara.com, menekankan bahwa AI dapat membantu meningkatkan efisiensi produksi konten, memperkuat analisis data, mendukung proses verifikasi, serta membuka peluang baru dalam distribusi karya jurnalistik.
Namun, pemanfaatannya juga memiliki sejumlah risiko, seperti halusinasi informasi, misinformasi, deepfake, bias algoritma, hingga persoalan hak cipta dan keamanan data.
Memasuki sesi praktik, peserta terlebih dahulu diarahkan menyusun outline atau kerangka liputan berdasarkan isu yang akan dikembangkan.
Dalam diskusi kelompok, muncul tiga topik utama yang menjadi bahan latihan, yakni kenaikan harga pangan, persoalan LPG, dan banjir.
Peserta kemudian diperkenalkan dengan teknik menyusun prompt atau instruksi yang jelas dan terukur agar AI dapat memberikan hasil sesuai kebutuhan jurnalistik.
Praktik dilanjutkan dengan menggunakan Gemini untuk menelusuri persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan.
Peserta diminta mengembangkan pertanyaan secara bertahap, mulai dari gambaran umum persoalan hingga kebutuhan data yang lebih spesifik, seperti jumlah titik panas, luas lahan terbakar, kondisi lahan gambut dan mineral, keterkaitan konsesi perusahaan, serta dampak kesehatan masyarakat.
Dari proses tersebut, peserta belajar bahwa pencarian informasi menggunakan AI tidak cukup hanya dengan memberikan perintah umum.
Instruksi yang lebih terarah diperlukan agar informasi yang diperoleh dapat membantu proses pendalaman liputan.
Kemudian, peserta diarahkan menggunakan fitur Gems pada Gemini untuk mengelola konteks informasi yang sedang dikerjakan.
Hasil penelusuran kemudian dikembangkan menggunakan Claude untuk menghasilkan rancangan infografis bergerak serta naskah video yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan konten YouTube dan Instagram Reels.
Praktik tersebut memperlihatkan bagaimana AI dapat dimanfaatkan dalam beberapa tahapan produksi konten, mulai dari pengembangan ide hingga penyusunan materi visual.
Meski demikian, data yang dihasilkan dalam demonstrasi tetap membutuhkan pemeriksaan terhadap sumber aslinya sebelum digunakan sebagai fakta pemberitaan.
Di balik kemudahan teknologi tersebut, aspek akurasi dan tanggung jawab jurnalistik menjadi perhatian penting dalam pelatihan.
Pemateri mengingatkan bahwa penggunaan AI tidak berarti seluruh pekerjaan jurnalis dapat diserahkan kepada mesin.
Prinsip “human in the loop” atau keterlibatan manusia dalam proses kerja AI harus tetap diterapkan.
Jurnalis memiliki tanggung jawab untuk memeriksa informasi, melakukan wawancara, turun langsung ke lapangan, serta memastikan setiap fakta yang dipublikasikan dapat dipertanggungjawabkan.
Hal ini penting karena AI masih berpotensi menghasilkan informasi keliru, termasuk angka, sumber, dan pernyataan yang terlihat meyakinkan tetapi belum tentu benar.
Selain akurasi, keamanan informasi juga menjadi perhatian. Data narasumber maupun dokumen internal tidak boleh sembarangan diunggah ke platform AI publik tanpa perlindungan yang memadai.
Dengan demikian, kemampuan menggunakan teknologi harus berjalan beriringan dengan pemahaman etika dan kode etik jurnalistik.
Manfaat pelatihan juga dirasakan langsung oleh salah satu peserta, ia mengaku tidak menyangka teknologi AI dapat membantu menyelesaikan pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan waktu cukup lama.
“Nggak terbayang sebelumnya, ini hebat banget! Pekerjaan yang biasanya makan waktu berjam-jam bisa selesai dalam hitungan detik. Video yang biasanya kita edit lama, drafnya langsung jadi,”ujarnya. (kata siapa ini?)
Hal senada disampaikan Mahasiswa UIN Raden Fatah Palembang Lira Fitriani . Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan pengetahuan tambahan mengenai pemanfaatan AI, khususnya bagi mahasiswa jurnalistik yang sebelumnya masih memiliki pemahaman terbatas tentang teknologi tersebut.
“Menurut saya, kegiatan ini membantu khususnya untuk kami yang mahasiswa jurnalistik yang masih awam terkait AI,” ujar Lira.
Ia juga mengaku mendapatkan pemahaman baru mengenai cara menyusun perintah yang tepat, mencari data, hingga membuat video yang menarik menggunakan teknologi AI.
Meski demikian, Lira menilai kemampuan membedakan informasi yang benar dan informasi yang masih membutuhkan pemeriksaan menjadi hal penting dalam proses jurnalistik.
Ia menegaskan bahwa penggunaan AI tidak menghilangkan kewajiban jurnalis untuk melakukan verifikasi ulang.
“Setelah ada kegiatan ini memang perlu untuk jurnalistik itu melakukan verifikasi ulang walaupun sudah menggunakan AI,” katanya.
Rangkaian kegiatan AI for Journalism ditutup dengan sesi kuis menggunakan platform Kahoot dan pengumuman lima peserta yang berhasil menjadi pemenang.
Melalui pelatihan tersebut, peserta memperoleh pengalaman langsung mengenai penggunaan AI dalam mendukung proses kerja jurnalistik, mulai dari pengembangan topik liputan hingga produksi konten multimedia.
Namun, pesan utama yang ditekankan dalam kegiatan ini adalah bahwa kecepatan teknologi tidak boleh mengalahkan ketelitian dalam menghasilkan berita.
AI dapat membantu jurnalis bekerja lebih efisien, verifikasi fakta, wawancara mendalam, dan tanggung jawab terhadap informasi yang disampaikan kepada publik tetap berada di tangan manusia.
Penulis : Zhira Salsabila Ramadhani
