Bisnis Laundry Memiliki Prospek yang Baik di Tengah Pandemi

Palembang Sonora – Apa dampak pandemic, serta prospek bisnis laundry ?, berikut penuturuan Fajar Febriansyah, Bidang pengembangan Usaha dan Standarisasi – Asosiasi laundry Indonesia kepada Sonora (11/9/2021).

“ Semua usaha pasti kena imbas. Gelombang ke-2, pengusaha laundry shock akibat kebijakan pemerintah dan lainnya. Laundry perumahan tadinya, konsumennya adalah keluarga yang suami istri bekerja karena mereka tidak memiliki waktu sehingga melaundry pakaian mereka, tetapi akibat pandemic mereka WFH, sehingga banyak waktu dirumah dan mencuci sendiri pakaian mereka.  Juga untuk perhotelan karena tidak ada tamu yang menginap maka berimbas juga ke permintaan laundry. Orderan laundry berkurang 50 % selama pandemic,” ujarnya.

Ia menceritakan, dirinya memulai bisnis laundry sejak tahun 2016.

“ Sukanya ketika pelanggan puas, timbul trust, timbul emosional loyality, ujung-ujungnya cuan. Dukanya ketika konsumen datang malam hari dan minta besok pagi selesai, bila tidak ada bagian produksi terpaksa kita turun langsung, lembur,” tukasnya.

Pengusaha laundry harus memiliki strategi yang baik terutama terkait cuaca. Mereka harus mempunyai mesin pengering ketika masuk musim penghujan.

“ Musim penghujan sebetulnya musim panen karena orang malas mencuci dirumah. Pengusaha harus cari mesin yang cepat kering dan bisa menampung sebanyak-banyaknya,” ujarnya.

Bisnis laundry memiliki prospek yang baik, bahkan termasuk salah satu bisnis yang bisa bertahan di masa pandemic. “ Ada anekdot mengatakan selama pakai pakaian maka ada laundry,” tukasnya.

Sebelum memulai bisnis laundry sebaiknya calon pengusaha laundry harus melakukan riset, bertemu dengan pengusaha-pengusaha laundry. Berbisnis ini harus memiliki pengetahuan yang cukup tentang memperlakukan bahan-bahan pakaian. Jangan sampai salah perlakuan sehingga menimbulkan complain pelanggan.

“ Ada jas, songket, wool perlakuannya berbeda-beda,” ujarnya.

Memulai bisnis laundry tidak selalu membutuhkan modal yang besar, yang terpenting adalah tekad.

“ Saat ini pandemic masih berlangsung, tidak tahu sampai kapan.   Harus sadar bahwa prilaku konsumen banyak berubah, intinya ada empat hal. Pertama usaha kita harus higenis. Menerapkan prokes, karyawan memakai masker dan sebagainya. Kedua orang tidak lagi berkerumun, sebisa mungkin ada antar jemput. Ketiga low touch, pembayaran kalau bisa menggunakan transfer rekening. Keempat low mobilitas, artinya dimaksimalkan dengan digital marketing,” tutupnya.

Penulis : jati

Sumber foto : koleksi pribadi



Leave a Reply