Inovasi Pakan Ikan di Desa Sungai Gerong: Budidaya Maggot, Solusi Ekonomis dan Ramah Lingkungan

Sonora Palembang – Desa Sungai Gerong, Kecamatan Banyuasin I, Kabupaten Banyuasin, kini menjadi saksi perubahan besar dalam budidaya ikan. Berkat inisiatif Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Barokah dan Tunas Makmur, serta dukungan CSR dari PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) RU III Plaju, budidaya maggot mulai menjadi alternatif unggul dalam pakan ikan. Maggot merupakan larva dari serangga Hermetia illucens atau lebih dikenal dengan istilah black soldier fly (BSF). Tidak hanya murah, tetapi maggot juga dianggap lebih ramah lingkungan dan dapat menghemat biaya pakan hingga 30%.

Yudi Penggerak Pokdakan Tunas makmur
Yudi Penggerak Pokdakan Tunas makmur

Yudi, salah satu penggerak Pokdakan Tunas Makmur, yang sudah berpengalaman beternak ikan sejak tahun 2014, mengakui bahwa maggot adalah solusi yang sangat efisien. Sejak menjalin kemitraan dengan PT KPI RU III Plaju pada 2022, ia semakin yakin bahwa budidaya maggot mampu mengurangi beban finansial para peternak ikan. “Ternak maggot ini mudah, cepat berkembang, dan biayanya sangat rendah. Kami bisa menghemat pengeluaran pakan sekitar 30%. Ini tentu sangat membantu kami,” jelas Yudi. Berkat dukungan CSR PT KPI RU III Plaju, ia telah menerima berbagai bantuan, mulai dari pelatihan hingga peralatan pendukung untuk meningkatkan produktivitas ternaknya.

Tempat Budidaya Maggot
Tempat Budidaya Maggot

Sementara itu, Nasuki Marka, penggerak Pokdakan Barokah, mulai beralih ke budidaya maggot pada pertengahan 2024. Bagi Nasuki, beternak maggot menjadi pilihan cerdas dalam menjaga kelangsungan usaha budidaya ikannya. “Kami mendapat banyak dukungan dari PT KPI RU III Plaju. Mereka membantu menyediakan peralatan, mengurus perizinan, hingga pelatihan lengkap tentang cara budidaya maggot dan bagaimana membuat pelet dari maggot. Ini sangat memudahkan kami untuk memulai usaha ini dengan lebih baik,” ujarnya.

Hermawan Budiantoro, GM PT KPI RU III Plaju

Hermawan Budiantoro, General Manager PT KPI RU III Plaju, menegaskan bahwa program CSR yang digulirkan perusahaan tidak hanya berfokus pada bantuan fisik, tetapi juga menyeluruh pada pengembangan sumber daya masyarakat. “Kami memberikan pelatihan, peralatan, dan pendampingan dalam proses perizinan agar peternak bisa mandiri dan berkelanjutan. Budidaya maggot ini kami harapkan bisa menjadi solusi jangka panjang untuk masalah pakan ikan,” ungkap Hermawan.

Arfan Abrar, Dosen Jurusan Peternakan Universitas Sriwijaya (UNSRI)
Arfan Abrar, Dosen Jurusan Peternakan Universitas Sriwijaya (UNSRI)

Lebih lanjut, dari sisi ilmiah, Arfan Abrar, seorang dosen dari Jurusan Peternakan Universitas Sriwijaya (UNSRI), menjelaskan bahwa maggot mengandung protein tinggi, yang menjadikannya pakan alternatif untuk ikan. “Dari hasil uji laboratorium, maggot terbukti memiliki kandungan protein yang cukup untuk memenuhi kebutuhan nutrisi ikan, dan bisa menjadi alternatif pengganti pakan komersial yang harganya terus meningkat,” kata Arfan. Ia juga memberikan panduan tentang cara beternak maggot, mulai dari pemilihan bibit, pemberian pakan yang tepat, hingga waktu panen yang ideal.

Dengan program ini, kelompok pembudidaya ikan di Desa Sungai Gerong kini tidak hanya mampu menghemat biaya, tetapi juga meningkatkan produktivitas ternak mereka. Budidaya maggot telah membuka jalan baru bagi para peternak lokal untuk lebih mandiri, sekaligus memberikan dampak positif pada lingkungan dengan memanfaatkan limbah organik sebagai media budidaya maggot. Keberhasilan ini diharapkan dapat menjadi model bagi daerah lain yang tengah mencari solusi inovatif dalam budidaya ikan yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Penulis Achmad Aulia

Poto Koleksi Pribadi



Leave a Reply