Mengalir Bersama Harapan: Perjuangan Darul Qutni Membangun Wisata Belanting River Tubing

Desa Kelumpang Ulu Ogan – Terletak di tepi derasnya aliran Sungai Ogan, Desa Kelumpang, Kecamatan Ulu Ogan, Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan, menjadi salah satu destinasi wisata yang menarik perhatian. Desa ini dahulu hanyalah sebuah daerah terpencil, tetapi berkat gagasan dan inisiatif seorang pemuda bernama Darul Qutni, potensi desa tersebut kini terangkat melalui destinasi wisata arung jeram, Belanting River Tubing. Dengan semangat dan visi yang kuat, Darul Qutni berhasil mengubah wajah desanya. Belanting River Tubing tidak hanya menawarkan petualangan menantang di atas arus Sungai Ogan, tetapi juga memberikan harapan dan lapangan pekerjaan bagi masyarakat setempat.

Darul Qutni tokoh pemuda yang mengubah wajah desanya

Latar Belakang

Sebelum adanya Belanting River Tubing, Desa Kelumpang menghadapi masalah serius, terutama tingginya angka pengangguran. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Ogan Komering Ulu menunjukkan bahwa pada tahun 2020, tingkat pengangguran di Kecamatan Ulu Ogan mencapai 7,3%, dengan sebagian besar penganggur berasal dari kalangan pemuda. Hal ini berdampak pada peningkatan masalah sosial seperti kriminalitas dan penyalahgunaan narkoba.

Darul Qutni menyaksikan langsung bagaimana teman-temannya kehilangan arah hidup. Ia merasa terpanggil untuk membawa perubahan. Melihat potensi alam desanya, ia mencetuskan ide untuk mengubah Sungai Ogan menjadi destinasi wisata.

“Motivasi saya mendirikan Belanting River Tubing ini adalah karena prihatin dengan anak-anak muda di desa Kelumpang yang menganggur. Saya ingin mengubah pandangan negatif orang luar tentang desa kami dan memperkenalkan keindahan alam desa kami,” ungkap Darul.

 

Komunitas Pemuda yang Terlibat dalam Program Belanting River Tubing
Komunitas Pemuda yang Terlibat dalam Program Belanting River Tubing

Proses Pengembangan dan Tantangan Infrastruktur

Pengembangan Belanting River Tubing dimulai pada awal tahun 2021. Darul bersama beberapa pemuda desa memulai dengan alat seadanya. Infrastruktur awal sangat terbatas, tetapi mereka memanfaatkan sumber daya yang ada, seperti ban bekas untuk tubing dan material lokal untuk membangun fasilitas dasar.

Namun, tantangan utama mereka adalah minimnya infrastruktur desa. Jalan akses yang buruk dan pasokan listrik yang tidak stabil menjadi kendala besar. Dengan bantuan gotong royong masyarakat dan dukungan dari donatur lokal, sedikit demi sedikit infrastruktur mulai dibangun.

“Kami harus menghadapi banyak kendala, terutama infrastruktur yang sangat minim. Namun, dengan kerja sama masyarakat, perlahan kami berhasil membangun fasilitas yang lebih baik,” kata Darul.

Tantangan Kebersihan

Selain masalah teknis, tantangan lain muncul dari kurangnya dukungan sebagian masyarakat terhadap kebersihan sungai. Masih ada warga yang membuang sampah dan limbah langsung ke Sungai Ogan.

“Tantangan terbesar adalah masih adanya Masyarakat yang kurang mendukung kegiatan ini tentang kebersihan Sungai, masih adanya Masyarakat yang membuang sampah dan BAB ke Sungai,” jelas Darul dengan penuh keseriusan.

Pengunjung Objek Wisata Belanting River Tubing
Pengunjung Objek Wisata Belanting River Tubing

Dampak Ekonomi: Pariwisata membuka Pintu Lapangan Pekerjaan

Sejak Belanting River Tubing beroperasi penuh pada pertengahan tahun 2021, dampak ekonominya terasa signifikan. Berdasarkan data pemerintah desa, pendapatan warga yang terlibat dalam pengelolaan wisata ini meningkat hingga 45% dalam setahun. Sebagian besar dari mereka adalah pemuda yang sebelumnya menganggur.

Data dari Dinas Pariwisata Kabupaten Ogan Komering Ulu mencatat, Belanting River Tubing menarik 500 hingga 700 wisatawan per bulan. Dengan harga tiket Rp 50.000 per orang, destinasi ini menghasilkan pendapatan sekitar Rp 25 juta hingga Rp 35 juta per bulan, di mana 70% pendapatan didistribusikan kepada penduduk lokal yang bekerja sebagai pemandu, tenaga keamanan, dan petugas kebersihan.

Bahkan, sektor informal seperti warung makan dan toko suvenir lokal turut merasakan manfaatnya. Adelia, seorang pedagang makanan di dekat area Belanting River Tubing, merasakan peningkatan penjualan setelah Belanting River Tubing dibuka. Sebelumnya, ia hanya mampu menjual beberapa makanan ringan kepada penduduk setempat. Kini setiap akhir pekan ia dapat menjual makanan dan minuman kepada ratusan wisatawan yang datang berkunjung.

“Dengan adanya Belanting River Tubing terjadi peningkatan penjualan makanan dan minuman saya, perubahannya sangat signifikan apalagi saat akhir pekan dan hari libur, saya merasa senang atas dukungan dari Pak Darul Qutni karena sudah membantu usaha saya dan berharap usaha saya lebih maju seiring majunya objek wisata Belanting River Tubing,” ungkap Adelia dengan senyum bahagia.

Selain itu Mereka yang dulunya menganggur, kini terlibat aktif dalam pengelolaan wisata, baik sebagai pemandu, tenaga keamanan, maupun dalam bidang pemasaran.

“Darul Qutni selalu memberikan semangat  dan motivasi kepada saya untuk melakukan hal-hal baik  dan banyak sekali yang bisa saya pelajari setelah bergabung ke Belanting River Tubing,” kata Apriadi, salah satu pemuda yang aktif terlibat dalam pengelolaan Belanting River Tubing.

Hal serupa juga dirasakan oleh Rizan Pratama Putra, yang mengaku senang bisa berkontribusi dalam proyek wisata ini.

“Saya merasa senang bisa ikut serta mengembangkan Belanting River Tubing Bersama  Darul. Kami belajar banyak tentang pariwisata dan bagaimana mengembangkan objek wisata di desa kami,” ujarnya.

Kelompok Pengrajin Anyaman Bambu
Kelompok Pengrajin Anyaman Bambu

Sebagai Penggerak Pemberdayaan Komnitas

Selain menyediakan lapangan pekerjaan langsung, Darul juga memperluas dampak ekonomi dengan memberdayakan warga dalam sektor kerajinan tangan. Salah satu inisiatif yang ia gagas adalah bekerjasama  dengan pengrajin suvenir yang kemudian dijual sebagai oleh-oleh kepada para wisatawan.

“Kami juga bekerjasama dengan pengrajin-pengrajin Ulu Ogan khususnya di desa Kelumpang seperti kelompok anyaman bambu, kelompok Tani Pionir Jaya yang menyediakan kopi robusta Ulu Ogan serta pengrajin ulekan dan pengrajin pisau yang berjumlah seratus orang, “ jelas Darul.

Kerajinan tangan ini tidak hanya memberikan pendapatan tambahan bagi para pembuatnya, tetapi juga menjadi sarana untuk melestarikan warisan budaya lokal.

Menurut data desa, sekitar 25% rumah tangga di Desa Kelumpang kini terlibat dalam produksi kerajinan tangan atau penjualan makanan dan minuman di sekitar area wisata. Ini menunjukkan bahwa pengembangan Belanting River Tubing tidak hanya berdampak pada satu sektor ekonomi, tetapi juga membuka peluang usaha di berbagai sektor lainnya.

“Saya ingin setiap orang di desa ini bisa terlibat dalam pembangunan pariwisata. Pariwisata itu bisa jadi pintu bagi kemajuan, asalkan kita mau bekerjasama dan terus belajar,” ungkap Darul.

Menjaga Alam Tetap Lestari
Menjaga Alam Tetap Lestari

Pariwisata berkelanjutan: Menjaga Alam Tetap lestari

Pengembangan pariwisata di Desa Kelumpang juga dihadapkan pada tantangan pelestarian lingkungan. Sungai Ogan, yang menjadi daya tarik utama Belanting River Tubing, memiliki peran penting sebagai sumber kehidupan masyarakat setempat dan sebagai habitat bagi berbagai flora dan fauna. Darul dan timnya memastikan operasional wisata ini tidak merusak ekosistem sungai dan sekitarnya.

Menurut laporan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Ogan Komering Ulu, indeks kualitas air Sungai Ogan pada tahun 2023 berada pada kategori sedang (54,4 poin). Tim Belanting River Tubing berkomitmen untuk rutin  melakukan pembersihan sungai untuk menjaga pelestarian lingkungan .

“Kami melakukan pembersihan rutin  sungai setiap sore dan khusus dihari jumat kami tutup untuk hari gotong royong bersama tim belanting dan masyrakat untuk  membersihkan jalur belanting,” ungkap Darul.

Penyerahan Bantuan CSR PGE Lumut Balai
Penyerahan Bantuan CSR PGE Lumut Balai

Dukungan CSR PT Pertamina Geothermal Energy Area Lumut Balai

Kesuksesan Belanting River Tubing juga mendapat dukungan dari program Corporate Social Responsibility (CSR) PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) Lumut Balai. Melalui program ini, PGE memberikan bantuan berupa pembangunan fasilitas tambahan, pelatihan manajemen pariwisata, serta promosi untuk menarik lebih banyak wisatawan.

“Inisiatif Darul Qutni adalah contoh luar biasa dari pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal. Melalui program CSR, kami mendukung penuh pengembangan ini,” ungkap Yuswardi, Jr. Government & PR PT Pertamina Geothermal Energy.

PGE juga berperan dalam memperkuat keterlibatan masyarakat, terutama pemuda, dalam mengembangkan potensi wisata di desa mereka.

“Saya sangat mengapresiasi Darul qutni sebagai tokoh pemuda dimana beliau dapat merangkul pemuda dan memediasi tokoh Masyarakat sehingga dapat terbentuknya program belanting river tubing yang melintasi tanah warga, saya berharap masih banyak lagi lokal hero kedepannya yang dapat merangkul pemuda dan tokoh Masyarakat agar melancarkan program CSR Pertamina,” ungkapnya.

Daru Qutni

Inspirasi Bagi Generasi Muda: Pariwisata sebagai Pemberdayaan Komunitas

Kisah Darul Qutni dan Belanting River Tubing adalah bukti bahwa satu individu dengan visi kuat dapat membawa perubahan besar bagi komunitasnya. Selain menciptakan lapangan kerja, Darul juga mempromosikan pemberdayaan melalui kerajinan tangan, seperti anyaman bambu, kopi robusta, dan pembuatan pisau. Produk-produk ini dijual sebagai suvenir kepada para wisatawan, memberikan pendapatan tambahan bagi masyarakat desa.

“Pariwisata bisa menjadi pintu kemajuan desa kami, asalkan kita mau bekerja sama dan terus belajar,” kata Darul dengan optimis.

Dengan dukungan masyarakat dan program CSR, Desa Kelumpang kini bertransformasi menjadi destinasi wisata yang menjanjikan. Kisah ini menginspirasi banyak orang bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah kecil dengan tekad yang kuat.

Penulis Achmad Aulia

Poto Koleksi Pribadi



Leave a Reply