- September 12, 2025
- Posted by: Bayu Prabowo
- Category: Informasi
Palembang, 12 September 2025 – Tradisi ngobeng yang lekat dengan masyarakat Palembang kembali mendapat panggung istimewa dalam perayaan milad ke-6 Asosiasi Pengusaha Kuliner (Aspenku). Lebih dari sekadar makan bersama, ngobeng adalah simbol kebersamaan, gotong royong, dan identitas budaya yang telah diwariskan turun-temurun.
Budayawan Sumatera Selatan, Drs. Raden Muhammad Ali Hanafiah, M.M. yang biasa di panggil “Mang Amin” ini, menuturkan bahwa ngobeng memiliki jejak sejarah panjang. Tradisi ini dipengaruhi bangsa Arab, India, dan Cina yang dahulu datang ke Palembang dan memperkenalkan tata cara makan yang kolektif.
“Ngobeng ini dipengaruhi bangsa Arab, India, dan Cina, lalu disesuaikan menjadi ciri khas Palembang. Tradisi ini bukan sekadar makan bersama, tetapi gotong royong yang mempererat silaturahmi,” ungkap Mang Amin.
Pada masa Kesultanan Palembang, tata cara makan dengan talam atau nampan kemudian diadaptasi oleh Masyarakat Palembang dengan menambahkan kearifan lokal, sehingga lahirlah ngobeng sebagai warisan budaya khas wong kito galo.
Selain sarana makan bersama, ngobeng juga mengandung filosofi kebersamaan.
“Melalui gotong royong ngobeng, keluarga yang sudah lama tidak bertemu bisa kembali berkumpul. Inilah kekuatan sosial yang membuat tradisi ini relevan hingga sekarang,” tambahnya.
Ngobeng biasanya dilakukan saat hajatan besar, seperti pernikahan, syukuran, hingga acara keagamaan. Prosesnya sederhana: nasi dan lauk dihidangkan bersama, lalu disantap dalam kebersamaan. Bagi masyarakat Palembang, ngobeng bukan hanya soal perut kenyang, melainkan juga soal menjaga harmoni sosial.
Mang Amin menegaskan pentingnya mengenalkan tradisi ini kepada generasi muda.
“Lewat ajang Bujang Gadis Palembang atau Putra Putri Sriwijaya, anak muda bisa belajar budaya, adat, dan sejarah tanpa merasa digurui,” ujarnya.
Sejak tahun 2014, Pemerintah Kota Palembang bahkan telah mendaftarkan ngobeng sebagai Warisan Budaya Takbenda ke Kementerian Pendidikan Nasional.
Tradisi penuh makna ini menjadi bagian utama dalam perayaan Road to Anniversary Aspenku Sumsel ke-6 tahun yang digelar pada Jumat (12/9) di Museum Bayt Al Qur’an Al Akbar, Gandus, Palembang. Acara berlangsung meriah dengan kehadiran para anggota DPRD kota Palembang, pengusaha kuliner, perwakilan dari mall di kota Palembang, rekan-rekan media cetak, online dan elektronik di kota Palembang, serta para tokoh besar kota Palembang.
Ketua Yayasan IGM Kota Palembang, Hj. Asmawati, S.E., M.M. , menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya acara ini.
“Alhamdulillah, hari ini kita dapat berkumpul dalam rangkaian milad ke-6 Aspenku. Tradisi ngobeng ini bukan sekadar makan, tetapi juga simbol kebersamaan, doa, dan rasa syukur,” ungkapnya.
Aspenku sendiri telah menggelar rangkaian roadshow selama satu bulan penuh ke 18 kecamatan di Sumatera Selatan menjelang puncak milad. Semua ini bisa terwujud berkat dukungan para pengusaha muda, UMKM, dan sahabat media.
Acara ditutup dengan doa yang dipimpin Ustadz H. Syofwatillah Mohzaib, S.Sos.I . Doa tersebut dipanjatkan agar Aspenku dan seluruh anggotanya senantiasa diberi kesehatan, keberkahan, serta kesuksesan usaha.
“Semoga keluarga besar Aspenku diberi kesehatan lahir batin, usaha yang maju, serta keberkahan rezeki agar dapat terus memberi manfaat bagi masyarakat,”tutupnya.
Penulis :M.Bariq Khairullah
Foto : Koleksi Pribadi
