
Rapat Koordinasi Pengendalian lnflasi Daerah Sumatera Selatan diikuti oleh TPID Provinsi Sumatera Selatan, TPID dari 17 Kabupaten/Kota se-Sumatera Selatan, Satgas Pangan Sumsel, BPS, serta instansi terkait lainnya. Rapat koordinasi TPlD tersebut dilakukan dalam rangka sinergi dan koordinasi program kerja pengendalian inflasi akhir tahun sebagai antisipasi beberapa risiko inflasi berupa peningkatan permintaan saat Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan periode libur sekolah. Dari sisi penawaran, TPID juga perlu memantau ketersediaan beberapa komoditas pangan agar mencukupi disaat permintaan meningkat. Pentingnya pengendalian inflasi di daerah menjadi perhatian khusus bagi Gubernur Provinsi Sumatera Selatan, mengingatkan kembali arahan Presiden pada Rakornas TPID. “Pada Rakornas TPID tahun 2018, Presiden Rl memerintahkan kepada kepala daerah untuk terus mendorong efektivitas APBD melalui percepatan realisasi dan intervensi stabilitas harga. Disinilah presiden menunjukkan bahwa pengendalian inflasi daerah merupakan salah satu program prioritas”, demikian disampaikan Herman Deru. Gubernur Sumatera Selatan juga menggaris bawahi perlunya untuk menjaga ketersediaan pasokan serta kelancaran distribusi yanB didukung infrastruktur yanB baik. Gangguan pada distribusi menjadi faktor munculnya ekonomi biaya tinggi dan meningkatkan harga di level konsumen. Dua factor tersebut menjadi kunci dalam menjamin keterjangkauan harga bagi konsumen yang didukung dengan komunikasi yang efektif oleh pemangku kebijakan. Di sisi lain, inflasi Sumatera Selatan terjaga pada level yang rendah dan stabil yaitu sebesar 2,60% (yoy) atau dalam rentang target inflasi 2018 yaitu sebesar 3,511% (yoy). lnflasi yang rendah dan terkendali tersebut dicapai atas peran serta Tim Pengendalian lnflasi Daerah (TPID) Sumatera Selatan bersinergi dengan Satgas Pangan dengan berbagai upaya yang dilakukan antara lain, pasar murah, pemantauan harga, operasi pasar, iklan layanan masyarakat, hingga himbauan bijak berbelanja sehingga berhasil menjaga inflasi pada tingkat yang rendah. “TPID Sumatera Selatan juga mengembangkan teknologi dalam penSendalian harga yaitu dengan aplikasi Sungai Musi atau Sistem lnformasi Harga Komoditas Terkini Sumatera Selatan,,tambah Hari Widodo. Dalam koordinasi TPID akan dilakukan penguatan pemanfaatan Sungai Musi sebagai Early worning system saat harga komoditas tinggi. Aplikasi ini dapat memberikan informasi awal kenaikan harga komoditas strategis baik di level Provinsi maupun Kota/Kabupaten.
Untuk meningkatkan pemanfaatan Sungai Musi, maka dilakukan capacity building bagi operator Sungai Musi pada Rabu,31 Oktober 2018. Terkait dengan kondisi ekonomi terkini Provinsi Sumatera Selatan, dalam Kajian Ekonomidan Keuangan Retional (KEKR), yang merupakan publikasi triwulanan Bank tndonesia terkait perkembangan ekonomi, inflasi, stabilitas sistem keuangan, dan sistem pembayaran, terlihat bahwa tingginya pertumbuhan ekonomi Sumatera Selatan didorong oleh konsumsi rumah tangga dan investasi. “Tingginya pertumbuhan PDRB SumateraSelatan Triwulan 2018 tercermin pada komponen investasi dan konsumsi rumah tangga” seperti yang disampaikan Hari Widodo, Pjs Kepala perwakilan Bank lndonesia provinsi Sumatera Selatan. Hal ini didorong oleh konsumsi masyarakat yang meningkat sebagai dampak persiapan pelaksanaan evert internasional Asian Games XVlll. Banyaknya kunjungan ke provinsi Sumatera Selatan oleh official serta panitia penyeleng8ara acara mendorong konsumsi pada subkelompok makanan dan minuman non beralkohol serta subkelompok penginapan dan hotel. Sementara itu, pembangunan infrastruktur tercermin pada komponen investasi subkelompok bangunan. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi yang didukung oleh inflasi yang rendah dan stabil menjadi modal bagi Sumatera Selatan dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas. Menjaga momentum, koordinasi, dan sinergi menjadi kata kunci yang diangkat dalam rapat koordinasi ini, sebagai ikhtiar untuk membangun Sumatera Selatan yang lebih sejahtera.