
“ Saya sudah tidak bisa ngomong lagi. Dari awal pandemic kami sudah menjalankan protocol kesehatan sebagaimana mestinya. Bahkan mall kami pernah mendapat penghargaan dari walikota sebagai tempat umum yang menyelenggarakan protocol kesehatan sangat baik. Hanya saja covid bertambah dan kita masuk ke level 4. Level empat tidak serta merta dari pusat perbelanjaan. Banyak factor-faktor lainnya, sayangnya kebijakannya selalu mall yang jadi kambing hitamnya. Mall dituduh jadi pusat penyebaran jadi harus ditutup,” ujarnya.
Ia menambahkan hampir semua mall berteriak mengapa mall yang selalu disalahkan. Kita lihat saja, apakah dengan ditutupnya mall maka covid di Palembang akan berkurang. “ Kita lihat saja, jujur sangat kecewa,” tukasnya.
Ia tidak mengetahui rencana apa yang akan dilakukan para tenan menunggu PPKM berakhir. Menurut informasi mereka akan berjualan online. “ Jualan online, berapa sih kontribusinya ?, paling Cuma 10 sampai 15%,” ujarnya. Ada juga kebijakan restaurant diperbolehkan buka tapi tidak boleh dining atau makan ditempat, harus take away atau bungkus. “ Pemasukannya Cuma 10 % kalau Cuma take away. Cost mereka tidak akan tertutup,” ujarnya. Banyak tenan yang menyatakan ingin menutup usaha daripada take away.
Terkait wacana pengunjung mall harus menunjukkan surat vaksin saat hendak berkunjung, dirinya menyambut baik wacana tersebut, bahkan tidak hanya pengunjung semua pekerja mall juga harus divaksin semua. “ Dari asosiasi sudah bicara, mereka mendukung tapi pengunjung juga harus vaksin, samakan saja, seluruh Indonesia bila perlu,” tukasnya.
Ia menilai pemerintah harus cerdas, daerah mana yang prokesnya tidak jalan, itu yang harus ditertibkan jangan semua dipukul rata berdasarkan kebijakan pusat. “ Pusat belanja banyak macamnya. Yang tidak prokes silahkan dibatasi, jangan dipukul rata, di Palembang ada ribuan pekerja yang bergantung dari mall. Jangan pengusahanya saja,” ujarnya.
Penulis : jati
Sumber foto : koleksi pribadi