- March 8, 2020
- Posted by: Bayu Prabowo
- Category: Informasi
PALEMBANG , SONORA – Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) merupakan suatu tindakan sistematis dan terencana yang dilakukan secara bersama-sama oleh seluruh komponen bangsa dengan kesadaran, kemauan dan kemampuan berperilaku sehat untuk meningkatkan kualitas hidup.
Dalam rangka memperkenalkan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat tersebut, Kecamatan Alang-Alang Lebar menggelar Sosialisasi Gerakan Masyarakat Hidup Sehat Se-Kecamatan Alang-Alang Lebar, Sabtu (7/3), di Gedung Serbaguna IGM Lt. 1 Palembang
Jl. Kolonel H. Burlian KM 9,5 Kel. Karya Baru Kec. Alang-Alang Lebar Palembang.
Dalam materinya seputar Sanitasi Total Berbasis Masyarakat, Administrator Kesehatan Muda Staf Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Palembang Neny Heryanti, SKM., mengatakan, sanitasi dan perilaku kebersihan yang buruk serta air minum yang tidak aman menjadi penyebab 88% kematian akibat diare di seluruh dunia.
“Ini adalah hasil ringkasan dari kajian Unicef 2012,” ujarnya.
Neny menambahkan, menurut data World Bank 2007, 100 ribu anak di bawah usia 3 tahun meninggal karena diare setiap tahunnya.
Akibat sanitasi yang buruk tadi, lanjut Neny, anak-anak balita akan mengalami diare terus menerus.
“Sehingga, kalau dia diare terus menerus, maka akan terjadi infeksi, akan menghambat pertumbuhannya,” ujarnya.
Neny melanjutkan, akibat lain dari kondisi sanitasi yang buruk adalah Indonesia mengalami kerugian sebesar 56,7 trilyun rupiah per tahun.
Penelitian terbaru, kata Neny, menunjukkan adanya kaitan yang erat antara sanitasi buruk dengan anak pendek/kerdil di Indonesia, atau yang dikenal dengan istilah stanting.
Neny mengungkapkan, 1 dari 3 anak Indonesia menderita tubuh pendek (stanting).
Menurutnya, hal inilah yang menjadikan program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat diperlukan, karena beberapa akibat yang ada akan berdampak pada generasi mendatang.
“Berdasarkan data riskesdas tahun 2013,” ujarnya.
Neny menambahkan, derajat kesehatan dipengaruhi oleh 4 faktor, yaitu lingkungan sebesar 45%, perilaku sebesar 30%, pelayanan kesehatan sebesar 20%, dan keturunan sebesar 5%.
Dalam program STBM, lanjut Neny, pihaknya akan mengintervensi 2 faktor terbesar, yaitu lingkungan dan perilaku.
“Ini yang kami harapkan nanti, dengan adanya program STBM,” pungkasnya.
Penulis : Bovend
Sumber Foto : Bovend
