- March 29, 2021
- Posted by: Jati Sasongko
- Category: Informasi
Palembang Sonora – Pandemi membuat banyak kegiatan dengan internet. Sekolah, kuliah, belajar mau tidak mau banyak menggunakan internet. “ penelitian tahun ini yang dilakukan oleh fakultas kedokteran UI dan Atmajaya menyatakan bahwa selama pandemic, beberapa orang yang sudah mengalami adiksi penggunaan internet. angkanya cukup mengagetkan yaitu : 14,4 % mengalami adiksi. Penggunaan internet meningkat 52 % dari biasanya, padahal tahun 2019, Indonesia masuk peringkat ke-5 negara pengguna internet. rata-rata sehari 8 jam 30 menit,” ujar dr. RA. Mulya Liansari, SpKj dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Palembang dalam acara Bincang Dokter (29/03/2021).
Ia menjelaskan bahwa kecanduan internet termasuk kedalam kecanduan non zat, sama seperti kecanduan judi dan game online.
“ tidak ada barangnya tapi bila tidak dilakukan jadi kepikiran, bila diputuskan ada gejala – gejala pada orang tersebut seperti emosi, mudah marah, bahkan kalau tidak ada handphone bisa memukul. Kecanduan zat contohnya adalah kecanduan alcohol, rokok, sabu heroin dan sebagainya,” pukasnya.
Ia mengatakan kecanduan internet bisa menyerang siapa saja, namun lebih banyak menyerang usia remaja sampai dewasa muda. Anak anak juga bisa mengalami kecanduan internet terutama yang belajar online dan kurangnya pengawasan orang tua.
“ perlu ada Batasan waktu, namun perlu realistis. Orang dewasa yang pekerjaannya berhubungan dengan internet, yang bisa dilakukan adalah mengajarkan kesadaran kepadanya bahwa akan timbul gejala. Missal tidak mau lagi kerja, kecenderungannya main internet terus,atau tidak bisa lepas dari internet. perlu waspada,” ucapnya.
Ia menambahkan melarang bermain internet atau handphone bukan solusi terbaik, tetapi lebih kepada diskusi dan menjelaskan konsekuensinya yang akan timbul.
“ bisa deberikan data data sederhana yang bisa diterima anak, namun jangan membohongi, missal akibat bermain handphone jadi buta. Itu termasuk hoax, anak sekarang pintar mereka akan mencari tahu kebenarannya, nantinya mereka jadi tidak percaya kalau informasi tadi tidak benar,” ujarnya.
Penulis : Jati / endah
Sumber foto : Koleksi pribadi
