Dari Mulut ke Mulut ke Layar Ponsel: Perjalanan UMKM Sumsel Menembus Pasar Digital

Sonora  Palembang — Di sebuah warung sederhana di sudut Kota Palembang, aktivitas usaha dimulai jauh sebelum matahari benar-benar tinggi. Barang dagangan ditata, pesanan diperiksa, dan pelanggan datang silih berganti. Tidak ada papan nama besar ataupun toko dengan etalase mewah.

Namun, dari tempat sederhana itu, sebuah mimpi sedang tumbuh.

Bagi banyak pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Sumatera Selatan, perjalanan membangun bisnis bukan perkara mudah. Modal terbatas, persaingan yang semakin ketat, perubahan perilaku konsumen, hingga tuntutan untuk mengikuti perkembangan teknologi menjadi bagian dari keseharian.

Dulu, pelanggan datang karena mengetahui lokasi warung. Kini, calon pembeli bisa datang dari layar telepon genggam.

Perubahan itulah yang perlahan mengubah cara pelaku UMKM menjalankan usaha.

Salah satunya dialami Dery, pemilik usaha kuliner pempek di Kota Palembang. Ia memulai usaha dari skala kecil dengan mengandalkan pelanggan di sekitar tempat tinggal.

“Awalnya memang kecil sekali. Yang penting waktu itu bagaimana usaha bisa terus berjalan dan kebutuhan keluarga bisa terpenuhi,” ujarnya.

Pada masa awal berusaha, hampir seluruh aktivitas bisnis dilakukan secara konvensional. Pemasukan dan pengeluaran dicatat secara sederhana; pelanggan dilayani secara langsung; sementara promosi masih mengandalkan rekomendasi dari mulut ke mulut.

Perlahan, cara tersebut mulai berubah.

Dari Pelanggan Tetangga ke Pasar yang Lebih Luas

Perkembangan teknologi digital membuka pintu baru bagi pelaku UMKM. Media sosial, layanan pesan antar, pembayaran digital, hingga marketplace membuat batas antara warung kecil dan konsumen di luar lingkungan sekitar menjadi semakin tipis.

Bagi Dery, digitalisasi awalnya bukan sesuatu yang mudah.

“Awalnya saya tidak terlalu paham teknologi. Takut juga kalau salah menggunakan aplikasi atau salah mengatur keuangan,” katanya.

Namun, kebutuhan membuatnya belajar.

Ia mulai menggunakan media sosial untuk memperkenalkan produknya. Foto produk dibuat lebih menarik; informasi harga dibagikan melalui kanal digital; dan komunikasi dengan pelanggan dilakukan melalui telepon pintar.

Sedikit demi sedikit, pelanggan baru berdatangan.

“Yang tadinya pembeli hanya orang sekitar, sekarang ada yang tahu dari media sosial. Dari situ saya mulai merasa, ternyata usaha kecil juga bisa punya pasar yang lebih luas,” tuturnya.

Perubahan tersebut tidak hanya soal bertambahnya pelanggan.

Digitalisasi juga mendorong pelaku usaha untuk mulai melihat bisnis secara lebih terukur. Berapa omzet dalam satu bulan? Produk mana yang paling diminati? Berapa biaya operasional? Berapa keuntungan yang sebenarnya diperoleh?

Pertanyaan-pertanyaan yang dulu sering terabaikan kini menjadi bagian penting dalam pengambilan keputusan.

Ketika Usaha Kecil Mulai Berpikir Besar

Perjalanan naik kelas bagi UMKM pada akhirnya bukan hanya tentang meningkatkan penjualan.

Ada perubahan cara berpikir.

Pelaku usaha mulai memisahkan uang usaha dan kebutuhan pribadi; mulai mencatat arus kas; mulai mengenal transaksi non-tunai; serta mulai memanfaatkan layanan perbankan digital untuk mengelola aktivitas usaha.

Bagi Dery, perubahan itu membuat dirinya semakin percaya diri.

“Sekarang saya mulai belajar bahwa usaha itu harus dikelola. Bukan hanya bagaimana barang laku, tetapi bagaimana usaha ini bisa bertahan dan berkembang,” ujarnya.

Di tengah perubahan tersebut, akses terhadap layanan keuangan dan solusi digital menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan UMKM.

CIMB Niaga, misalnya, terus mengembangkan layanan digital yang ditujukan untuk membantu kebutuhan transaksi dan pengelolaan bisnis. Pada April 2026, CIMB Niaga memperkenalkan OCTOBIZ sebagai solusi digital banking terintegrasi untuk membantu pelaku usaha mengelola transaksi bisnis domestik maupun internasional secara lebih mudah, efisien, aman, dan terintegrasi.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya CIMB Niaga menjalankan purpose “Advancing Customers & Society”, yakni mendukung nasabah dan masyarakat dalam mewujudkan aspirasi serta pertumbuhan mereka.

Bagi pelaku UMKM, dukungan seperti itu menjadi semakin relevan ketika bisnis mulai berkembang dan kebutuhan pengelolaan keuangan menjadi lebih kompleks.

Bukan Sekadar Menjual, tetapi Membangun Kepercayaan

Bagi Dery, perjalanan digitalisasi juga mengubah hubungan dengan pelanggan.

Jika sebelumnya transaksi terjadi ketika pelanggan datang ke warung, kini komunikasi dapat berlangsung kapan saja.

Pelanggan bisa melihat produk, bertanya mengenai harga, melakukan pemesanan, kemudian menyelesaikan pembayaran secara digital.

“Sekarang pelanggan maunya serba cepat. Kita sebagai penjual juga harus mengikuti. Kalau kita tidak mengikuti perkembangan, bisa ditinggalkan,” katanya.

Namun, teknologi bukan satu-satunya kunci.

Ia menyadari bahwa pelanggan tetap membutuhkan sesuatu yang tidak bisa digantikan oleh teknologi: kepercayaan.

Karena itu, kualitas produk tetap dijaga. Pesanan harus sesuai. Pelayanan harus ramah. Ketika terjadi masalah, pelanggan harus mendapatkan solusi.

Digitalisasi membuka pintu menuju pelanggan baru. Namun, kualitas usaha yang membuat pelanggan memilih untuk kembali.

Dari Warung Kecil, Muncul Keberanian Bermimpi

Kini, Dery tidak lagi melihat usahanya sekadar sebagai warung untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Ada target yang ingin dicapai.

“Ke depan saya ingin usaha ini lebih besar. Kalau sekarang mungkin masih kecil, mudah-mudahan bisa punya tempat yang lebih baik, karyawan lebih banyak, dan produk bisa dikenal lebih luas,” katanya.

Mimpi tersebut mungkin terdengar sederhana.

Namun, bagi seorang pelaku UMKM yang memulai semuanya dari usaha kecil, keberanian untuk bermimpi adalah bagian penting dari perjalanan.

Di Sumatera Selatan, cerita seperti ini bukan hanya milik satu pelaku usaha.

Ada ribuan usaha kecil yang setiap hari mencoba bertahan, belajar, beradaptasi, dan mencari cara untuk tumbuh.

Sebagian masih berjualan dari rumah. Sebagian mulai masuk marketplace. Sebagian lainnya mulai memanfaatkan pembayaran digital dan layanan perbankan untuk mengelola bisnis.

Mereka mungkin belum menjadi perusahaan besar.

Namun, dari usaha-usaha kecil itulah ekonomi masyarakat bergerak.

Digital Bukan Lagi Pilihan

Perjalanan Dery menunjukkan bahwa naik kelas tidak terjadi dalam satu malam.

Ada proses panjang: belajar, mencoba, gagal, memperbaiki, lalu mencoba lagi.

Teknologi hanya menjadi salah satu alat.

Yang paling menentukan tetap keberanian pelaku usaha untuk berubah.

Di sisi lain, ekosistem yang mendukung juga menjadi penting. Ketika pelaku UMKM memperoleh akses terhadap informasi, teknologi, layanan keuangan, dan pasar, peluang untuk mengembangkan usaha menjadi semakin terbuka.

CIMB Niaga sendiri mencatat segmen SME dengan outstanding pembiayaan sebesar Rp27,4 triliun pada akhir 2025, sementara dana pihak ketiga dari segmen tersebut mencapai Rp47,9 triliun. Bank juga terus memperkuat layanan digital untuk mendukung kebutuhan bisnis yang semakin berkembang.

Namun, di balik angka-angka tersebut, selalu ada cerita manusia.

Ada pemilik warung yang bangun pagi untuk menyiapkan dagangan.

Ada pelaku usaha yang belajar membuat konten untuk pertama kalinya.

Ada pemilik UMKM yang mulai belajar mencatat keuangan.

Dan ada seseorang yang suatu hari berani mengatakan:

“Dulu saya hanya berpikir bagaimana usaha ini bisa bertahan. Sekarang saya berpikir bagaimana usaha ini bisa berkembang.”

Kalimat sederhana itu mungkin menjadi gambaran paling nyata dari sebuah usaha yang sedang naik kelas.

Karena pada akhirnya, digitalisasi bukan sekadar memindahkan transaksi dari meja kasir ke layar telepon genggam.

Digitalisasi adalah tentang membuka kesempatan.

Dari pelanggan sekitar menjadi pasar yang lebih luas.

Dari pencatatan sederhana menjadi pengelolaan usaha yang lebih terukur.

Dari sebuah warung kecil menjadi bisnis yang berani bermimpi lebih besar.

Dan dari mimpi seorang pelaku UMKM, lahir harapan untuk ekonomi masyarakat yang semakin kuat.

Sebab, usaha besar sering kali dimulai dari tempat yang sederhana dan dari keberanian untuk memulai dan kemauan untuk terus belajar.



Leave a Reply