Instalasi Pengolahan Aspal Karet Diresmikan, Gubernur Sumsel: Teknologi Ini Akan Sangat Membantu Petani

PALEMBANG  SONORA Aspal karet adalah sebuah inovasi yang digunakan dalam bidang infrastruktur keras, yaitu jalan. Menurut Gubernur Provinsi Sumatera Selatan H. Herman Deru, hal tersebut merupakan karya nyata yang diperuntukkan bagi masyarakat.

Hal tersebut diungkapkannya saat menyampaikan kata sambutan di acara Peresmian Instalasi Pengolahan Aspal Karet Berbasis Lateks Terpravulkanisasi di Kabupaten Musi Banyuasin, Senin (26/10), di Sekayu, Kabupaten Musi Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan.

Herman Deru mengungkapkan, sebelum aspal karet ditemukan, aspal bercampur serbuk besi pernah digunakan sebagai bahan untuk infrastruktur jalan. Bahkan, dulu, serbuk besi begitu diminati. Sehingga, benda tersebut dikumpulkan dari para tukang las dan tukang besi.

Ternyata, lanjutnya, serbuk besi tersebut mengandung Bahan Berbahaya dan Beracun (B3).

“Sehingga dilarang untuk dapat diterapkan. Bahaya, karena itu mengandung racun,” ujar Herman Deru, dalam video yang diunggah akun instagram @humasprovsumsel, Senin (26/10).

Dikatakannya, teknologi berikutnya, yakni aspal karet, menjadi sesuatu yang menggembirakan bagi Provinsi Sumatera Selatan, khususnya Kabupaten Musi Banyuasin.

Pada kesempatan itu, Herman Deru menjelaskan tentang beberapa pilihan dalam pengolahan aspal karet.

“Pertama, lateks pasti. Ini formula yang dipilih oleh Pak Bupati. Kedua, ada masterbatch, yang langsung diblending antara karet dan aspal, sebelum dimasukkan ke Asphalt Mixing Plant (AMP). Ada lagi, sistem bubuk/serbuk, yang pernah, kata Pak Bupati, diujicobakan pada saat itu,” ungkap pria yang menjabat sebagai Gubernur Sumatera Selatan sejak tahun 2018 lalu tersebut.

Menurutnya, masterbatch dan serbuk, tidak bisa langsung melibatkan para petani karet. Oleh karena itu, lateks menjadi sebuah pilihan yang paling jitu.

“Kita ketahui, dari mixed formula yang ada, untuk membuat, dari mulai aspal, agregat, abu batu, pasir dan lain sebagainya, bahwa aspal adalah komponen yang paling mahal, yakni enam persen dari kebutuhan hot mixnya. Berarti, setiap ton hot mix, itu butuh enampuluh kilo aspal, lebih kurang,” ujar mantan Bupati Ogan Komering Ulu (OKU) Timur dua periode tersebut.

Dikatakannya, komitmen bersama antara Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Kabupaten/Kota, untuk menggunakan teknologi aspal karet, akan sangat membantu petani karet.

“Karena ada lima sampai tujuh persen itu, dapat dicampur dengan pravulkanisasi yang ada di sini. Ini, semangat pasti, Pak Bupati, bagi petani,” ungkap suami dari Febrita Lustia tersebut.

Penulis: Bovend

Sumber Foto: Humas Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan



Leave a Reply