- November 17, 2020
- Posted by: Jati Sasongko
- Category: Informasi
Sonora Palembang – Additive manufacturing atau 3 D Printing adalah proses pembuatan objek 3 dimensi dari model digital. Proses pembuatan objek 3D dicapai dengan menggunakan proses additive. Dalam proses additive, objek dibuat dengan menambah lapisan demi lapisan material hingga menjadi bentuk yang diinginkan. Yohanes Dicka Pratama, S.T, M.T Dosen Unika Musi Charitas dalam acara IT Corner (17/11/2020) mengatakan bahwa dengan teknologi ini bisa menciptakan peluang yang cukup besar di Indonesia.
” Indonesia baru 5 % pangsa pasar teknologi 3 D printing, peluangnya besar sekali. Banyak mahasiswa yang punya tugas akhir tentang merancang produk, mereka kesulitan bagaimana membuat model dari rancangan yang dibuat. Ini peluang untuk orang – orang yang punya fasilitas 3 D printing. Peluang lain adalah start up yang banyak menyebutnya thinker thing, yiatu jasa menyediakan pencetakan produk dalam bentuk 3 D yang berasal dari pikiran atau imajinasi. Kemudian juga ada start up mencetak hasil USG ibu ibu hamil menjadi bentuk 3D bahkan 4 D,” ujarnya.
Ia menambahkan pencetakan 3 D Printing terbuat dari bahan plastik dan tarifnya dihitung pergram.
“misal cetak benda 10 gram, pergramnya berapa ?, dipasaran sekarang pergramnya Rp.5000,00 untuk bahan baku material filamen, jadi kalau 10 gram tarifnya 50 ribu untuk jasa mencetak. Bahan baku filamen plastik dipasaran 1 kg adalah 250 ribu, kalau dihitung lagi pergramnya tidak mencapai 5000, antara 2000 sampai 3000 rupiah, belum lagi ditambah jasa sebesar 5000, artinya keuntungannya cukup besar,” imbuhnya.
ia mengatakan teknologi additive manufakturing memiliki kelebihan dan kekurangan.
” kelebihannya antara lain adalah pertama mengurangi proses proses yang dilakukan secara konvensional, dengan cara lama butuh beberapa proses, tentunya akan mengurangi tenaga operatornya dan cost yang dibutuhkan. Kedua limbah yang dihasilkan jauh lebih kecil dibanding cara konvensional, ketiga flexibel, bisa membuat berbagai produk tanpa ada kendala dan batasan tergantung kreatifitas perancang. Kelemahannya adalah belum terlalu cocok untuk industri industri mass produkction karena boros dan butuh banyak mesin. kedua, bisa menimbulkan moral hazard karena setiap orang bisa mencetak tanpa mempedulikan hak cipta orang lain. ketiga adalah banyak pekerjaan yang dihilangkan dan merupakan ancaman bagi lapangan pekerjaan,” ujarnya.
penulis : jati
Sumber foto : Koleksi pribadi
