- October 25, 2024
- Posted by: Bayu Prabowo
- Category: Informasi
Sonora Palembang – Ketua Dewan Penasihat Forum Pemimpin Redaksi, Arifin Arsyad, mengungkapkan bahwa sejak hadir pada tahun 1996, media digital telah secara signifikan mengubah peta dunia media. Dalam acara bertajuk Jurnalis Inspiratif: CIMB Niaga Journalist Class & Workshop yang berlangsung di Gunung Gelis, Bogor, dan mengangkat tema “Understanding Consumers in Digital Era in Journalism & Banking Perspective”, Arifin berbagi kisahnya beralih dari media cetak ke media online sejak 1999 dan mendirikan Kumparan.
“Dulu kita bicara tentang senjakala media cetak, sekarang kita alami senjakala media digital,” ujar Arifin. Ia menjelaskan bahwa pola konsumsi informasi oleh masyarakat, terutama melalui media sosial, telah mengalami perubahan yang tak bisa dihindari. “Akselerasi perubahan ini mulai terlihat sejak media sosial menjadi favorit bagi masyarakat,” tambahnya.
Namun, media sosial juga menghadirkan tantangan dengan meningkatnya penyebaran hoaks. Arifin menggarisbawahi pentingnya media arus utama menggunakan media sosial sebagai alat untuk menyebarkan informasi jurnalistik guna menjaga keseimbangan informasi dan menangkal hoaks. Di Indonesia, terdapat lebih dari 80 ribu media digital, tetapi hanya sekitar 2000 yang terverifikasi administrasi oleh Dewan Pers dan sekitar 1600 yang terverifikasi faktual.
“Misi utama dari sebuah media adalah mempertahankan kredibilitas,” tegas Arifin. Dia juga mengamati banyaknya orang yang menggunakan media sosial dengan identitas palsu, yang menandakan kurangnya tanggung jawab terhadap konten yang mereka sebarkan. Berdasarkan survei UNESCO tahun 2023 di 16 negara, termasuk Indonesia, sebanyak 68% responden menyatakan media sosial sebagai sumber utama hoaks, disusul oleh WhatsApp/Telegram dengan 38%.
Arifin menyarankan agar pemerintah menetapkan regulasi untuk memastikan setiap individu bertanggung jawab atas konten yang mereka bagikan di media sosial. Ia juga menekankan bahwa jurnalis perlu memiliki keterampilan, kreativitas, pemahaman etika jurnalistik, dan aturan platform sebelum mengunggah konten ke media sosial.
“Kita harus memahami kebutuhan audiens dari media arus utama,” ujar Arifin. Menurutnya, media harus menyajikan informasi yang terkini, menjadi sumber pembelajaran dan perspektif, relevan dengan praktik sehari-hari, serta mampu menghibur audiensnya.
Penurunan kepercayaan masyarakat terhadap media arus utama di Indonesia merupakan tantangan serius. Berdasarkan data Reuters Institute, tingkat kepercayaan pada media turun 4 poin pada 2024 setelah stabil selama 2021-2023, dengan isu kontroversial seputar pemilu yang terlalu dominan di media menjadi salah satu pemicunya.
Penulis Dina Apriana
Poto Koleksi Pribadi
